Yamaha, Sementara Menjadi Second Hand Hero Dulu, Itu Lebih Bijak

suzuki

Yola dulur…… sebenarnya tulisan ini adalah opini yang merupakan reaksi spontan deka atas statemen Pak Eko Prabowo tentang perkembangan metik Yamaha saat diwawancari oleh detikoto pada waktu tour belitung kemarin , silahkan bisa dicek kembali di artikel ini. Namun waktu itu momen lagi hot oleh hadirnya new CBR150R, sehingga baru terlaksana kali ini.

Yamaha Mio J
Yamaha Mio J

Pada kesempatan itu, dari kalimatnya menunjukkan bahwa Yamaha berambisi merebut kembali kelas metik di tahun 2015 nanti. Sebenarnya dalam dunia bisnis nggak salah, wajar bahkan cenderung harus untuk menjadi nomer satu atau pemimpin pasar. Namun kali ini deka mau menjadikannya bahan obrolan diluar dunia bisnis tersebut, pendekatan dengan sisi humanis.

Kalau dirunut kejadiannya, Yamaha bisa menjadi raja penjualan motor saat itu adalah faktor metik Mio. Disaat Raksasa satunya baru sadar pasar metik yang berkembang secara masive, yamaha dengan Mio-nya sudah merajai pasar metik, dan pasar metik ini mengambil sebagian besar market share motor nasional. Saat itu kalau boleh diibaratkan Yamaha berjaya saat belum ada lawan sepadan di kelas metik, AHM baru mulai bergerak dan sudah terlambat lebih dari 2 tahun.

klub Yamaha Mio Club Sumenep (YMCS)2

Namun sayangnya saat berjaya dengan Mio-nya, yamaha seperti terlena dengan keadaan. Mungkin mereka merasa jumawa, bisa mengalahkan penjualan Honda, dan mungkin ini adalah kejadian yang langka untuk kasus di negara-negara lain. Kekhilafan ini membuat mereka teledor dalam memantain Mio, ibarat deka seperti gadis yang telat bersolek seperti di artikel ini. Yamaha seperti menafikan bahwa mereka berjaya karena hanya ada Mio, metik yang paling mapan saat itu, sedangkan metik AHM sedang mengumpulkan kedigdayaannya sampai disuatu titik langsung melesat tak terbendung sampai saat ini.

Sekarang ini Yamaha seperti belum terima dengan keadaan dimana pasar metik mereka sudah menjadi 2nd hand hero….jagoan pendamping, bukan tokoh utama. Mereka menggebu-gebu ingin menjadi the main attraction lagi, si super hero, dengan melawan secara frontal si raksasa kapital. Strategi apapun dilayani bak ksatria yang berduel satu lawan satu di arena tanding. Padahal kalau boleh dirunut kejadiannya, sebenarnya bukan salah sepenuhnya AHM sampai kelas metik tergilas saat ini. Ada faktor yang memang yamaha kurang tanggap akan apa yang diinginkan publik ┬átentang sebuah metik.

gulf oil
next gen mio ( courtesy tmc blog )
next gen mio ( courtesy tmc blog )

Yamaha harusnya ingat, bagaimana kurang puasnya konsumen mereka saat ingin membeli metik mereka. Dari maraknya “pemaksaan” kredit oleh banyak oknum diler, permainan para sales, dan yang utama pembenahan pada metiknya itu sendiri. Okelah Yamaha mempunyai tag motor anak muda….namun pembeli motor paling besar di negeri ini adalah orang dewasa, khususnya kaum menengah kebawah….motor entry level. Golongan ini membutuhkan metik yang nyaman, fungsionalitas fitur, keawetan, bukan sekedar speed, sporty, modis. Bagaimana lambatnya yamaha bereaksi akan permintaan metik yang shocknya lebih nyaman, pelek yang awet tanpa fitur goyang itik, ban cungkring, cvt berdecit, fitur sederhana namun fungsional seperti kunci rem, iss, kantong-kantong bagasi.

marketing-simbol

Berkaca dari kasus-kasus itu, lebih bijak sebenarnya yamaha bukan lagi merasa raja yang terebut mahkotanya. Namun mengakui bahwa sekarang sebagai 2nd hand hero, dengan mentalitas seperti itu maka lebih baik fokus untuk melayani konsumen setianya sebaik mungkin. Hindari konflik dengan konsumen, ikuti maunya konsumen, minimal sisakan satu metik yang sesuai selera, soal metik lainnya masih bergaya anak muda yang mengutamakan speed,kenyamanan nomer 2 ya silahkan saja. Hindari upping price terhadap hot item, dengan cara konsolidasi seluruh diler dan marketing. Namun yang utama adalah mengatasi masalah yang selalu menjadi isu bersama metik yamaha.

Intinya menjadikan konsumen raja dulu, kaga usah menjadikan perusahaan lain menjadi target yang ingin dijatuhkan…..Honda dilawan… ora iso coy……( mungkin kalimat guyon ini bisa jadi benar ). Lebih baik tenaga difokuskan terhadap konsumen saja, untuk melayani agar mereka puas dan pastinya akan menyebar dengan sendirinya. Lha kalau fokus di pemuasan konsumen jualannya gimana? Yo balik tanya lagi…. kalau konsumen sudah puas itu indikasinya konsumennya nambah, jualannya nambah. Kalau belum nambah berarti konsumen belum puas, lha wong konsumen di marih itu sukanya nyebar jin kok, kalau ada suatu yang enak maka dia akan membicarakan ke banyak orang agar membuktikan apa yang dirasakannya. Dan semoga sudah dimulai dengan metik blue core mereka nantinya.

Wah…. gampang sekali ya deka ngomong soal kepentingan perusahaan raksasa yang diliputi oleh para ahli di bidangnya. Hahahaha…….. itulah enaknya blogger……tinggal beropini, tinggal nulis, tinggal ngomyang sak karepe dewe…lha wong ini curahan pikiran kok. Nggak pernah mikirin untung rugi perusahaan……hanya sekedar obrolan warung angkringan. Jika ada yang mau interupsi monggo silahkan dishare saja.

NB : Hati-hati, jangan ditelan bulat-bulat karena kadar kebenarannya masih dipertanyakan.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum