Tunggu Ya A’…. Si Neng Lagi Ngaji….. ( Sisi Lain Gadis Bispak )

suzuki

Yola dulur yang budiman….. artikel jejak kehidupan hadir kembali tiap 2 minggu sekali, bergantian dengan kisah balada darmogati. Deka ingatkan kembali bahwa kisah jejak kehidupan adalah kisah nyata, dimana tokohnya, deka samarkan dengan inisial ” Fulan “. Kisah cerita mungkin saja bukan dari pengalaman penulis sendiri, tapi bisa sajakarena penulis melihat secara langsung atau mendengar langsung dari pelaku. Kali ini deka akan menuturkan kisah cikal bakal prostitusi yang marak di kota-kota besar negeri ini.

ilustrasi prostitusi

Suatu sore, fulan yang tinggal serumah sama si hata cerita kalau dia punya stok bunga baru yang masih segar. Bunga adalah sandi seorang gadis yang bisa dipakai ( bispak ) untuk memuaskan hajat nafsu perlendiran. Yang namanya anak muda di perantauan, punya penghasilan lumayan banyak, kadang kebablasan saat menyalurkan kenakalan birahinya. Mungkin saat awal-awal mudanya dulu pernah punya obsesi soal perempuan yang tidak kesampaian, sehingga saat ada kesempatan mampu maka sebagai pelampiasan obsesi yang tidak tersampaikan dulu….. main perempuan.

Si fulan bercerita bahwa dia dikenalkan oleh temannya ke seorang gadis seumuran anak SMA yang bisa dipakai, walaupun sekarang statusnya bukanlah WTS atau pelacur, tapi karena tuntutan gaya hidup. ( Tema ini akan deka tulis di artikel terpisah ). Tinggalnya di sebuah daerah, desa sebelah barat kota T, kota kecil disebelah timur jawa barat. Seperti dikisahkan diatas, si fulan yang saat itu mobilnya ada di bengkel, mengajak hata untuk menjemput bunga di tempat tinggalnya. Si hata yang memang tidak punya acara mengiyakan ajakan itu.

Selain penasaran dengan bunga baru tersebut, hata juga termasuk sohib kentalnya si fulan. Akhirnya mereka berdua berangkat menggunakan mobil hata ke desa dimana si bunga tinggal seperti yang fulan ketahui sebelumnya. Di sebuah desa lereng gunung yang dingin, asri, penuh kesan kesederhanaan ternyata menyimpan bibit-bibit prostitusi gemerlapnya kota besar. Mereka berdua menyusuri jalanan asapl rusak masuk ke desa dan menuju rumah si bunga tinggal. Waktu itu hari menjelang Isya, sekitar jam 19.00 malam.

Setelah sampai di rumah sederhana semi permanen, kombinasi kayu dan tembok,  si fulan mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak berselang lama, seorang bapak-bapak muda ( kisaran umur 35-40 tahun ) keluar membukakan pintu. Setelah memberikan salam, si fulan menanyakan ke bapak tersebut, ” permisi pak, apa si bunga ada di rumah? ” . Bapak muda tersebut menjawab, ” Oh…. si Neng sedang ke rumah pak Anu….. sedang mengaji, sebentar ya biar bapak jemput dulu…. silahkan duduk dulu ya A'”. Dan dijawab iya sama si fuan.

Mendengar ucapan bapak tersebut, si hata yang ada di dalam mobil terperanjat setengah mati….. Dia seperti tidak percaya dengan daya pendengarannya sendiri… Apa tidak salah dengar ini??? Seorang gadis Bispak ternyata masih sempat mengaji bareng, layaknya gadis-gadis muda di desa sederhana?? dalam pikirannya, si bunga tersebut adalah gadis muda nakal yang salah pergaulan, liar, atau efek broken home. Tapi ironinya, si bunga ini ternyata nggak ada bedanya dengan gadis-gadis desa pada umumnya. Si hata semakin penasaran untuk bertemu dengan gadis muda ini.

Setelah sekitar 10 menit, datang bapak tersebut bersama seorang gadis muda seukuran anak SMA. Gadis dengan kulit kuning langsat, berambut sebahu, dengan muka cantik segar khas mojang priangan… dan……… berkerudung. Di tangannya tergenggam sebuah hape nokia N-gage, sebuah barang mewah waktu itu. Setelah dipersilahkan oleh bapaknya dan ditinggal masuk ke rumah, di fulan mulai bernegosiasi ke si bunga di teras rumah. Jelas mereka menggunakan bahasa sandi, seperti ” Neng jalan-jalan keluar yuk, sekalian isi pulsa, tadi siang bilang gitu kan sama aa?”. Ternyata si bunga sudah paham, lantas dia masuk ke rumah untuk berganti baju dan berpamitan. Kemudian si bunga keluar dengan baju yang necis, modis dan semerbak wangi….. khas anak muda……. tanpa kerudung yang dia pakai tadi.

Singkat kata mereka akan menuju ke villa di daerah atas milik seorang klien kerja yang tinggal di kota besar. Mereka berhubungan sangat baik dengan klien tersebut, sehingga diperbolehkan menempati villa-nya jika mau. Di mobil, hata baru tahu bahwa si bunga berumur 17 tahun, masih kelas 2 SMA. Itulah kontradiktif, ironi kehidupan……. ini bukan kota besar, ini bukan soal gadis broken home, ini bukan soal salah pergaulan, ini bukan karena gadis itu tidak laku cari pacar, dia sangat cantik……..Ini ada di desa pinggiran sebuah kota, dimana hingar bingar kehidupan kota hanya dia lihat sekilas, dia tidak bergaul dengan orang kota….

Tapi kenapa sampai bisa menjadi gadis bispak? siapa yang mempengaruhi kamu Neng? Siapa yang ngajarin kamu, wahai gadis muda yang ayu? Apakah orang tuamu tahu? Apa gunanya kamu tadi mengaji? Tidak berpikirkah ke masa depanmu? itulah sebagian pertanyaan yang muncul di kepala hata….. Di dalam mobil, perjalanan menuju sebuah villa di lereng sebuah gunung sebelah timur jawa barat…….

Semoga bisa menjadi perenungan bersama

Wassalamualaikum