Terima Uang Kampanye? NO WAY….

suzuki

Yola dulur….. ndak terasa sebentar lagi kita mengadakan acara pemilu, nyoblos bareng secara serempak. Memilih para wakil kita untuk duduk di kursi DPR, MPR, dan juga presiden yang akan memimpin kita untuk lima tahun kedepan.

pemilu

Sudah aturan dari sononya, sebulan menjelang pemilu diadakan  kampanye, baik calon legislatif, maupun calon presiden. Yang namanya mencalonkan diri ya kudu memperkenalkan diri, biar pada kenal dan mengetahui kemampuannya saat nanti terpilih kapabel apa ndak. Jadi kalau mereka kampanye memperkenal diri, mengusung visi misi program baik melalui perorangan maupun partai ya wajar-wajar saja. Ada yang dari pasang spanduk, masang bendera besar di pucuk pohon tertinggi, blusukan ke mana-mana, ya monggo-monggo saza. Asal tidak melanggar asas merugikan pihak lain.

(ilustrasi)
(ilustrasi)

Untuk menarik massa, ada yang mengadakan acara ndangdutan, kesenian daerah kayak jathilan, kobro siswo, minak koncer, ndayakan, ndholalak, angguk, wis rame tenan… yo monggo, namanya juga narik  perhatian massa biar ngumpul. Nah saat ngumpul itu caleg memperkenalkan diri dan nyebar janji program agar dipilih. Namuan ada juga lho pas kampanye itu yang nyebar duit, sembako, atau minimal kaos lah…  Yang ikut kampanye dikasih “uang bensin” tapi buat beli bensin masih nyisa… atau kadang malah beli bensin ora mbayar… biar nagihnya ke yang dikampanyein 😀 . Kalo pas di pom bensin, begitu saatnya mbayar tinggal bilang diurus ama yang belakang 😀 😀 .

(ilustrasi)
(ilustrasi)

Terus bagaimana kita sebagai masyarakat mensikapi kejadian tersebut? Itu mah monggo terserah pribadi masing-masing, itu hak-hak anda semua. Dusss… saia ada sedikit opini dan saia terapkan pada diri saia sendiri. Deka selalu nimbrung bicara jika ada tetangga saat ngobrol soal pulitik. Deka selalu menyampaikan sedikit opini tentang pembelajaran pulitik yang beretika, soal mereka setuju apa ngga ya urusan belakangan, ndak masalah buat ane.

Jika menghadapi caleg yang nyebarin amplop duit, langsung saia tolak, bukan berarti saia ndak butuh duit, tapi ada alasan yang lebih mendasar. Jika ada yang memberi sembako pun saia tolak, silahkan diberikan kepada fakir miskin saja, bukan berarti pula ane ndak butuh itu juga. Tapi ini soal prinsip… Jika seseorang untuk menarik massa menggunakan duit, dia meyakinkan orang untuk memilih dengan ngasih  atau janji duit, meletakkan kepercayaan kepada masyarakat berdasarkan duit, berarti dia mengejar kursi anggota DPR berlandaskan asas duit. Lha iya… dari awalnya semua pake duit, jadi kalo jadi DPR ya kudu dapat duit, malah kudu untung, melebihi pengeluaran saat kampanye, lha wong its all about bisnis…

gulf oil
(ilustrasi)
(ilustrasi)

Menjadi anggota DPR untuk sekedar bisnis, baik bisnis pribadi maupun bisnis pemain di belakangnya yang menjadi botoh-nya. Nah… ini sudah menyimpang jauh dari niat awal demokrasi. Yang awalnya dibentuk anggota DPR adalah mewakili suara kita sebagai rakyat untuk mengendalikan jalannya pemerintahan negara kita tercinta ini. Kalau menjadi ajang bisnis, ya otomatis bisnisnya dulu diutamakan, sedangkan urusan lain sebagai sampingan ( mau wakil kita seperti itu? ). Saat mengkritisi pemerintah berdasarkan atas bisnis kelompoknya, saat bikin undang-undang berdasarkan kepentingan golongannya, saat menentukan proyek, berdasarkan bisnis mereka. Its all about bisnis men… wakil rakyat mah titel doank….. Nah ini dimulai dari sekedar ngasih uang ke tiap individu, kita cuma ngerasain uang ngga lebih dari 100 ribu, tapi efeknya???? Nah loh…

(ilustrasi)
(ilustrasi)

Lha terus kita nerima pemberian uang atau sembako itu salah? haram?  Yo ndak lah yauw… lha wong ndak nyolong, ndak memaksa, ndak ngerampok, ndak nyopet, ndak nggabrul kok… tapi kalo diliat di titik itu. Nerima uang itu memang ndak haram…….tapi….. ada tapinya. Jika kita nerima pemberian dari caleg itu berarti kita menjadi bagian elemen dari kelakuan si pelaku itu nanti saat menjabat jadi dewan perwakilan, lha wong kita ikut terlibat diawalnya kok. Kita ndak bisa menyalahkan mereka saat mereka korupsi, lha wong kita udah menikmati panjernya kok. Ada yang nyeletuk, terima saja pemberiannya, soal milih mah kumaha engke…. Nah… ini juga akan meninggalkan masalah baru bernama dendam, udah minta duit  kok ingkar janji, nerima uang itu udah berarti janji lho… Lha wong niatan awal ngasih duit biar dipilih kok, jadi kalo sanggup nerima uang ya sanggup memilih, kalo ndak… ya sama saja tukang ingkar…ndak ada bedanya sama mereka yang suka bohong dan korupsi itu.

(ilustrasi)
(ilustrasi)

Prinsip ini saia pegang sejak lama, dan efeknya saia terhindar dari godaan seperti itu, saia menjadi pemilih yang independen. Sebelum ngasih-ngasih, mereka sudah sungkan dulu saat ketemu saia, soalnya tahu kalau pasti akan saia tolak tuh pemberian. Paling kalau datang cuma sekedar nempel setiker atau bujukan biasa saja, monggo lha wong itu dibolehin kok. Saia selamat dari sogokan baik di pemilihan kuwu / lurah, bupati, gubernur, dan pemilu nasional. Bebas dari janji memilih seseorang karena uang, saia memilih berdasar hati nurani dan keyakinan, soal bener salah pilihan, itu mah urusan belakangan.

So… ikutkah kita membangun budaya korupsi dari wakil kita? THINK AGAIN…..

Wassalamualaikum….

 

12 Komentar

  1. Alhamdulillah belum pernah. Semoga gak pernah 🙁

    Ini budaya tidak baik 🙁

    Padahal saya dengar waktu pemilihan wali kota, di lampu merah ramai bagi2 uang 100 ribu, tapi tengah malam kejadiannya. Mudahan saya bisa menolaknya. Habis kebanyakan mereka gak tau dikasih itu kenapa, ujung2 sampai di rumah baru tau. disumbangkan aja deh duitnya. 🙁

  2. Sebagian besar penduduk beranggapan, cuma ini(uang kampanye) peluang mereka mendapatkan sesuatu yang nyata dari pemerintahan indonesia!
    Kalau saya sih,, mending golput,, 😀 tengok saja kantor DPRD, apa ada wakil rakyat yang bekerja di sana? Mreka cuma makan gaji buta!!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*