Tembok Mentalitas Alex Rins

suzuki

Setelah motogp seri Aragon selesai, jujur sangat enggan untuk membuat artikel motogp. Hasil team suzuki ecstar mengecewakan. Yah, efek sesaat saja. Ketika sudah reda, ngademin mencoba mencari ” kenapa ” dari sumber-sumber berita luar. Tembok mentalitas Rins adalah salah satunya.

Kecewa bukan karena suzuki gagal menang… No…. Paket team suzuki belum sampai ke taraf champion contender, penantang pemenang. Baru sampai ke taraf podium contender, dan winning contender di sirkuit-sirkuit klasik tertentu. Dan itu sudah diucapkan oleh davide brivio sebelum musim ini dimulai.

Kecewa karena jujur setelah kemenangan seru di silverstone, sang ace, alex rins mengalami penurunan. Crash di misano dan kemarin beberapa kali melakukan kesalahan sejak free practice, sampai kualifikasi. Bahkan sampai tak lolos Q2.

Namun Rins adalah rins, sunday rider. Bisa saja dia start dari belakang kemudian saat race finish di rombongan depan. Kalau jaman dulu saat ban Bridgestone sih sangat-sangat menghibur, karena ban lebih tahan buat fighting dan masih mampu untuk membuat pace seperti simulasi. Dengan ban michelin sekarang, jika sampai berjibaku fighting dengan pembalap lainnya, di sepertiga akhir compound akan habis dan mau tak mau pembalap harus menurunkan kecepatannya.

Itulah pentingnya start di row depan…. Dan Rins gagal mencapai misi itu, minimal row 2 atau grid 6. Baru bisa bergerombol dengan rombongan terdepan untuk berebut podium atau “nyolong” jadi pemenang.

Di balapan kemarin, Rins sadar bahwa posisi start dia buruk. Makanya secepat mungkin ingin segera menyusul rombongan depan. Tapi start 13 tentu beda dengan start rombongan depan. Banyak pembalap yang terlibat disitu. Disinilah dia melakukan kesalahan. Kesalahan yang sama dengan yang sudah-sudah. Masih ingat kasusnya dengan petrucci dulu? Ya… Masih terburu-buru takeover.

Bedanya kali ini sampai nyosor Franco Morbidelli sampai crash dan DNF. Kerugian lainnya, posisi Rins ikut merosot dan kena pinalti longtrack sampai posisi 19. Ada lagi kerugiannya, ternyata saat nyosor franky, winglet sebelah kanannya lepas dan membuat Rins kesusahan saat belok kekanan, juga sering wheelie saat keluar tikungan.

Memang di akhir balapan bisa posisi 9. Namun tetap saja merupakan ” usaha yang salah posisi”. Jika tak melakukan kesalahan tersebut, bisa jadi usaha yang sama namun hasilnya diatas posisi 6 besar. Jika merujuk ke kasus petrucci, dan tertahan terlalu lama dibelakang pol espargaro sebelum crash di misano, ini soal kejelian dan ketepatan takeover rins yang belum sematang pembalap senior.

Ini soal mentalitas saja sebenarnya. Skill rins sangat mumpuni. Jika anda mengikuti gaya balap rins dulu sampai sekarang, nampak terjadi pergeseran. Ngademin lebis suka dengan istilah ”¬†Transisi¬†“. Dulu gaya balap Rins very smooth seperti Lorenzo. Sekarang Rins melengkapinya dengan gaya tambahan agresive. Disinilah Rins mulai bertransisi.

Jika transisi ini mulus, maka Rins adalah seorang contender… Pesaing juara. Tapi dari sisi motor juga perlu tambahan. Suzuki GSXRR belum punya killing punch factor. Baru jadi motor yang bisa bertahan dengan motor tercepat. Ibarat petinju, belum punya pukulan mematikan. Dan itu dibutuhkan oleh pembalap yang agresive.

Pembalap dengan basis smooth yang ingin melengkapi dengan faktor agresive, tentu bukan sekedar bicara skill. Tapi juga kematangan, perhitungan, pengalaman, dan tentunya faktor killing punch motor. Disinilah faktor mental tersebut. Dan saat ini masih berupa tembok yang harus dirobohkan oleh rins.

Rins sepertinya butuh pelatihan meditasi, agar emosinya lebih terkontrol di fase transisi ini. Jika doi melewati masa transisi ini, fans suzuki bisa melihat sosok Kevin Scwhantz atau Barry Sheen di Alex Rins. Pembalap dengan mental juara.

Semoga bermanfaat

Wassalamu’alaikum

gulf oil

Be the first to comment

Leave a Reply