Sebagian Besar Dari Kita Memang Belum Siap Dengan Motor Sport

suzuki

Yola dulur… semenjak kelas sport direbut oleh yamaha dengan klan vixion-nya dulu, pergerakan akan sebuah motor sport semakin menyenangkan. Yah… minimal itu yang deka rasakan. Kita mulai bisa merasakan, memiliki sebuah motor genre sport yang secara konsep tidak beda jauh dengan negara-negara lain.

ducati-1098
ducati-1098

Kombinasi dari style desain, kemachoan, serta performa dalam satu paket motor. Bukan sebuah motor batangan yang dipaksakan masuk dalam katagori kelas sport. Secara bertahap, kita disajikan motor-motor sport dengan “taste” sport pula. Namun jujur, sebagian besar dari kita belum siap dengan motor sport, apalagi yang puer sport.

Bicara istilah motor kelas sport memang tidak ada batasan yang jelas, bahkan kalau diperdebatkan pun, tiap pabrikan punya batasan sendiri-sendiri untuk mengkatagorikan sebuah motor menjadi segmen sport. Motor batangan dengan tangki di depan saja sudah bisa dikatagorikan motor sport. Bahkan terakhir ini, ada pabrikan yang memaksakan sebuah motor kelas moped ke dalam kelas sport….. yah….. sekarepmu lah….

Nah, disini deka akan membicarakan motor sport, sesuai pemahaman deka, kelas sport adalah motor batangan, aka motor laki dengan tangki di depan yang mempunyai paket desain, performa diatas rata-rata motor kommuter. Bahkan di mata deka, motor seperti vixion, cbsf, pulsar, tvs apache, tiger, bukanlah motor sport. Deka menyebutnya, itu motor kommuter, atau motor laki harian.

honda cb 500
honda cb 500

Gambaran motor sport menurut deka adalah motor dengan desain full fairing, berbasis motor sirkuit yang ditambahkan piranti keselamatan sesuai aturan agar layak digunakan di jalan raya. Motor sport acuannya adalah motor dengan gaya balap, performa di atas rata-rata motor kelas kommuter di kubikasi yang sama. Rider yang mengendarai motor sport akan merasakan sensasi motor balap, walaupun hanya sensasi, bukan riil motor balap sirkuit. Sensasi dalam performa, maupun gaya mengendarai motor tersebut.

gulf oil

Jadi menurut deka cukup mengherankan kalau ada dulur biker yang mengeluhkan sebuah motor sport karena dianggap terlalu nungging, lebih boros bbm, atau yang menggelikan adalah nggak nyaman buat ngeboncengin penumpang. Lah….. motor sport kok diberdayakan untuk boncengan? motor sport itu kesannya egois, hanya untuk digunakan sendiri, mengejar sensasi motor balap, makanya dibuat belakangnya nungging. motor sport untuk ngeboncengin itu hanya dalam kondisi sangat terpaksa. Kalau mau ngeboncengin penumpang, itu ranahnya motor kommuter seperti metik, moped, atau motor batangan biasa.

yamaha r15 model
yamaha r15 model

Begitu juga dengan soal konsumsi bbm. Motor sport parameter yang digunakan adalah performa, soal irit bbm atau tepatnya efisiensi bbm itu hanya sekedar bonus tambahan, bukan sebuah pokok utama, irit lebih mengena ke motor harian, kembali lagi ke motor kommuter.

So…. kalau kita masih mengeluh akan ergonomi motor sport yang kurang nyaman untuk harian, masih komplain nggak nyaman untuk boncengan, atau terlalu bawel dengan konsumsi bbm-nya, berarti kita belum siap dengan keberadaan motor sport. Anda, atau kita jelas sudah salah beli motor….. Motor yang tepat untuk itu adalah motor kommuter, metik, bebek, atau batangan biasa, bukan motor sport full fairing. Lha terus kalau motor full fairing tapi joknya rata agar nyaman untuk boncengan itu namanya apa dong??? Well…… sport kommuter kali ya… desain sport tapi untuk kommuter. Wanna be sport….

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum