Salah Kaprah Tentang Turun Mesin

suzuki

Yola dulur yang budiman… selama mengenal dunia motor dari tahun baheula sampai sekarang, dari pengamatan ngadimin ada salah kaprah tentang motor yang masih mendarah daging padahal itu adalah keliru besar. Jika anda mendengar sebuah motor sedang atau turun mesin, maka dalam bayangan, motor tersebut sudah mengalami penurunan performa, dan parahnya penurunan nilai harga dari motor tersebut…..

Ya… turun mesin selama ini identik dengan penurunan performa, kualitas, serta nilai barangnya. Motor yang sudah turun mesin dianggap mesinnya telah rusak parah. Motor diperbaiki sampai harus bedrest total, dan jika sudah diinstal kembali, dianggap bekas penyakitan. Motor disamakan seperti manusia yang barusan sembuh dari penyakit parah dan opname berbulan-bulan di rumah sakit. Kondisi tidak akan sama dengan sedia kala…. Padahal itu adalah pandangan yang salah total.

Kita anggap saja benar, motor sebelum turun mesin karena kerusakan parah, misalnya gearbox rompal, stang seker bengkok, atau piston ngejim sehingga harus turun mesin, dan mesin dikalibrasi ulang. Namun perlu diingat, motor bukanlah manusia. Motor mempunyai onderdil, sparepart yang bisa diganti dengan yang baru secara mudah, berbeda dengan manusia yang mengandalkan regenerasi sel, atau transplantasi yang harganya mahal. Justru dengan turun mesin, motor mendapatkan sparepart baru dan rekalibrasi, sehingga kondisinya malah akan mendekati seperti baru.

Para biker di Luar negeri sono, soal turun mesin justru malah tidak menunggu mesin rusak parah. Turun mesin adalah bagian dari maintenance rutin motor dalam jangka waktu tertentu, katakanlah tiap 60 sampai 70 ribu km ( 50.000 miles). Lho???kenapa motor yang tidak rusak kok mendapatkan perlakuan turun mesin?

Karena mesin adalah sebuah kumpulan komponen yang dirakit dan dihubung-hubungkan antara satu dengan yang lainnya sehingga membentuk sebuah sistem kerja. Bayangkan saja, setiap mesin motor itu terdiri dari ratusan bahkan ribuan komponen yang saling berketerkaitan satu sama yang lain. Tiap link antar komponen akan mendapatkan gap atau celah antar komponen. Seiring dengan penggunaan dan waktu, akan terjadi celah antar part yang yang tidak ideal lagi. Dan juga terbentuk kotoran di dalam mesin yang bisa menghambat kinerja mesin.

Di situlah peran perawatan turun mesin. Mesin dibongkar, dibersihkan, diamati mana yang sudah mengalami keausan, kemudian diganti jika perlu, dan rirakit serta dikalibrasi ulang. Hasilnya mesin agar segar kembali seperti kondisi baru lagi. Karena kondisi seperti perakitan awal, maka mesin akan mengalami break in atau inreyen lagi untuk membentuk celah antar komponen yang ideal lagi.

Jadi, turun mesin itu adalah langkah perawatan mesin yang bagus, bukan menjadikan mesin turun performa. Justru mengembalikan performa seperti sedia kala. Lho kok berbeda dengan image selama ini? Yah…. itu mah akal-akalan pembeli atau bandar motor seken untuk mencari akal menjatuhkan harga motor yang dijual saja…. Yah… sudah turun mesin, harganya jatuh mas…. Jatuh dengkulmu mlesot kui…….

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

4 Komentar

  1. sama kyk prinsip beli mobil/motor second, jangan cari yang masih ori blm pada diganti apalagi taun tua. pasti kebagian ganti ini itu. tapi herannya banyak orang yang masih pegang ke-ori-an secara membabi buta xixixixixi…

    NB ini buat kendaraan pasaran ya

    • Setuju gan..
      Ditulis belum pernah turun mesin.. Padahal selanjutnya bisa berarti jika kita beli itu kendaraan, siap2 kita yang akan kena ongkos extra utk turun mesin. Dia yang enak make.. Kita yg kena bayarin ongkos maintenance nya.

  2. Pernah liat juga iklan mobil bekas bilang “Ban serep belum turun” padahal mobil (beserta ban serepnya) keluaran taun 2010-an.. otomatis bannya kadaluarsa dong.. wkwk

  3. Cuma biasanya orang sini kalau ga rusak yg bener bener rusak, gabakal turun mesin. Jadinya kalau udah turun mesin itu udah parah bgt, dan bisa aja jadi ada penyakit permanennya kan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*