Royal Battle Ala Team Satelite MotoGP

suzuki

Yola dulur yang budiman…. Entah kenapa, untuk saat ini mengikuti saga team satelite motogp kok lebih menarik daripada team factory. Kalau boleh menduga dan menganalisa, inilah buah dari grand strategi Ezpeleta di dunia bisnis motgp. Team satelite mempunyai daya tawar terhadap team factory, karena team satelite bisa hidup, mendapat bantuan subsidi dari Dorna. Jika team factory dianggap tidak memberikan hubungan menguntungkan, team satelite bisa mencari penawaran dari team factory lain. Dan kini beberapa team satelite seperti royal battle saja, saling berkoneksi nasibnya.

Dengan kebijakan ezpeleta untuk unifikasi elektronik, tentu memberikan keuntungan bagi team kecil, dan team satelite. dengan kebijakan baru motgp, motor yang berlomba di sirkuit kelas primer menjadi meriah, dan jumlahnya lebih dari 20 motor. Apalagi Dorna memberikan subsidi tiap team satelite 2,8 juta Euro per rider, dan subsidi 1 juta euro per rider di team satelite. Belum lagi kebebasan team satelite untuk mencari dana sponsor. Jika team satelite pandai meracik motor, mengorbitkan pembalap dan mendatangkan sponsor, mereka tidak bisa didikte kaku oleh team factory.

Team Tech3 menjadi salah satu bukti konkrit. Dengan aturan baru, maka kini gap antar team motogp menjadi lebih sempit, ada 5 team kekuatan besar sekarang : Honda, Ducati, Yamaha, KTM…. jika melihat secara kemampuan dana dan infrastruktur balap. Dan yang spesial di mata dorna Suzuki. walaupun secara anggaran kalah dibandingkan 4 team diatas, Suzuki dianggap punya “sesuatu yang spesial”.

Bahkan akhirnya tech3 berani memberikan statment akan perpisahannya dengan yamaha :

“Yamaha are suffering the consequences of their arrogance,” was how one paddock figure put it, requesting anonymity to speak freely.

Ya… Tech3 berani membangkang karena tidak dikasih spek pabrikan oleh yamaha, yamaha terlalu arogan. Di lain sisi, proposal mereka diterima oleh kekuatan dana besar KTM, bersama-sama mereka akan membangun KTM RC16 menjadi motor yang mumpuni, KTM punya dana, tech3 punya data riset balap. Tidak mungkin dilakukan jika Tech3 tidak punya daya tawar dan manajemen yang bagus, team satelite punya daya tawar menawar ke team factory. Nggak menguntungkan, ya pegat….. rewel amat…. :mrgreen: .

Ada beberapa team satelite yang masih punya daya tawar dan masih kemungkinan menjalin hubungan dengan team factory, jika kerjasamanya menguntungkan. Okelah Pramac sudah betah dengan Ducati, LCR dengan honda. Namun Marc VDS memutuskan tidak akan memakai mesin honda di tahun 2019, Marc VDS menjadi rebutan antara yamaha dan suzuki. Marc VDS sedang mempertimbangkan plus minus dari klausul jalinan kerjasama mereka. Kembali, sebuah team satelite punya daya tawar.

Team baru, Angel Nieto ( pembentuk team aspar ) juga sedang tarik ulur dengan dua team pabrikan, Ducati dan yamaha untuk menggantikan tech3. Bahkan akan menjadi cinta segitiga, karena Angel Nieto juga mengajukan proposal ke suzuki, meskipun posisinya dibelakang Marc VDS yang lebih agresif pedekate ke suzuki. Begitu juga dengan team Avintia yang digoda yamaha, dan diapelin oleh Aprilia.

Drama team satelite begitu menarik, sekarang bukan hanya soal drama pembalap ini diperebutkan oleh team mana, tapi berlangsung saga team mana di tarik pabrikan mana, pabrikan mana digoda oleh team mana. Sinetron motogp semakin seru diluat sirkuit. Inilah buah kecerdasan Ezpeleta sebagai pemangku kebijakan Dorna……

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum