Podium Pertama Alex Rins Bersama Suzuki…. Memang Jangan Juara Dulu

suzuki

Yola dulur yang budiman…. Mengikuti balapan adinda tersayang Alex Rins kemarin, jika mengikuti emosi kita, tentu akan kecewa. Memang doi mempersembahkan podium pertamanya bersama suzuki. Namun sebagian penonton seperti kecewa dengan performanya…. Seharusnya bisa juara jika terus fight…. Well…. menurut ngadimin, capaian tadi malam sudah sangat bagus, melebihi target. memang tadi malam adinda tersayang jangan juara dulu. Sebagai fans karbitan alex rins, ngadimin memnadang pembalap muda nan kinyis-kinyis ini bukanlah “prodigy” ala marquez, almarhum simoncelli, ataupun valentino rossi. Alex rins bukannya tak berbakat…. doi punya bakat bagus, walaupun secara bakat doi kalah dibandingkan 3 pembalap prodigy tadi. Gaya balap alex rins itu smooth, halus, sangat mirip dengan jorge lorenzo. Berbeda dengan para prodigy yang agresif. Bagi seorang prodigy, tahapan capaian sangat penting, meskipun bisa saja seorang prodigy langsung juara, tanpa melalui proses podium ketiga atau kedua…. namanya juga prodigy, apalagi gaya balapnya yang agresif. Secara tontonan juga lebih menarik gaya balap agresif, karena memunculkan sosok liar dalam balapan motor. Namun bukan berarti pembalap non prodigy tidak bisa sukses. Untuk mencapai tahapan juara, tidak absolute dari bakat saja. Seorang alex rins punya kekuatan di sektor lain selain bakat. bagaimana dia menyerap ilmu baru, bagaimana dia bekerja keras, bagaimana dia mengajak kerjasama team, dari crew sampai manajer team. Dan ada lagi potensi dari doi yang tersembunyi, yang ngadimin peroleh saat ketemu langsung. Seorang alex rins walaupun masih muda, tapi kontrol emosi atau attitudenya ke pembalap lain lumayan bagus. Doi pernah bilang, ” Ada kalanya saia ingin menonjok kepala pembalap yang balapannya ngawur, tapi hal itu saia urungkan karena tidak ada faedahnya”. Ini bisa menjadi sarana kontrol emosi, sara untuk belajar mengatasi tekanan tinggi saat balap. Alex Rins sudah punya fondasi yang bagus, dia pembalap yang ” humble”…. tinggal tetap istiqomah saja. Bagaimana pergolakan tekanan mental seorang pembalap pemula nampak saat balapan tadi malam. Ketika alex rins berada di posisi terdepan, tidak berselang lama membuat kesalahan, entah melebar atau telat mengerem. Berbeda dengan saat dibelakang pembalap lain, doi mampu lebih cepat dan bisa memangkas selisih jarak. Itu adalah gambaran bahwa menjadi pembalap terdepan itu punya tekanan mental yang lebih tinggi. Apalagi tahun kemarin alex rins banyak cidera parah saat adaptasi di kelas raja.Performa motor menuju ke arah yang salah. Baru musim ini  performa motor arahnya positif. Seri sebelumnya Rins juga mengalami crash karena terburu nafsu menyalip petrucci di qatar. Tadi malam, Ada kejadian menarik, dimana 3 atau 2 lap terakhir, ketika Rins ingin menyerang crutchlow dan gagal, doi menengok kebelakang. Doi menganalisa jarak dengan Miller di urutan ke4 yang jauh. Setelah itu dia mengendorkan perlawanan. Dari sisi fans atau tontonan, tentu ini bukanlah hal yang populis, enak ditonton. Penginnya ya fight till last blood….. Padahal dari sisi team, ini adalah tembok tebal yang harus dirobohkan oleh Rins : dapat poin dan podium yang pertama. Jika tembok ini tidak dirobohkan, tekanan mental dan trauma seorang rins akan lebih berat. Untungnya doi memilih untuk opsi yang kedua…. dapat podium dan poin. Ini hal yang butuh kedewasaaan dalam berpikir. Yang perlu dijadikan evaluasi ulang adalah : balapan tadi malam ada sesuatu yang ganjil dimana perebutan podium tidak ada pembalap alien. Ini juga perlu sebagai pertimbangan agar terus mengembangkan performa motor dan skill balap. Bagaimanapun adinda tersayang, Alex Rins bukan prodigy ala marquez, tapi bukan berarti selesai segalanya, bisa mengambil panutan pembalap seperto Lorenzo atau Stoner…. pembalap yang bisa memaksimalkan gaya balapnya, bisa juara meski bukan prodigy. Semoga bermanfaat Wassalamualaikum

gulf oil