Memaknai Fitur Tehnologi Motor, Belajarlah Dari Rusia

suzuki

Yola dulur yang budiman…mengamati aktivitas dunia permotoran sekarang lebih seru daripada dulu. Khususnya soal perang fitur tehnologi. Beberapa golongan publik motor mengagung-agungkan fitur tehnologi motor. Ngadimin sendiri suka sekali dengan tehnologi, khususnya yang disematkan di sebuah motor. Tapi kita perlu belajar ke rusia untuk memaknainya.

Sebenarnya sih, perkembangan fitur tehnologi motor sekarang ama dulu ya hampir sama. Dulu motor massal juga disematkan dengan fitur tehnologi terbaru, tapi sekarang pabrikan jauh lebih pandai menjualnya. Mengemas sebagai alat marketing agar publik lebih silau dengan produknya. Bahkan bisa jadi trend perang fitur….ngga banyak fitur akan dibilang jadul….

Secara umum ngadimin akan bilang yes… Fitur tehnologi itu wajib ada sebagai tambahan value sebuah motor. Hal inilah yang dulu ngadimin jadikan patokan untuk membeli bajaj pulsar… Karena penasaran dengan fitur twinspark, throttle position sensor carburetor, digital spedometer, engine balancer gear, dan digital ignition. Dan semua dirangkum secara sempurna dalam bingkai “low price”. Membentuk sebuah paket motor yang value banget.

Belajar dari kasus bajaj pulsar, ngadimin mempunyai perspektif lain akan adanya fitur tehnologi pada sebuah motor. Fitur tehnologi akan menjadi value tambahan ketika fitur tersebut memang membantu secara signifikan, entah ke arah performa, handling atau kemudahan penggunaan motor lainnya. Itu baru dari sudut internal motornya. Belum faktor eksternal motor lain.

Kenapa? karena bisa jadi sebuah motor perlu tambahan fitur tehnologi tertentu untuk meningkatkan baik performa, handling atau yang lainnya untuk mengimbangi motor lain. Padahal motor yang lain belum memakai tehnologi yang sama. Ya…sebuah fitur tehnologi sangat terasa membantu kenaikan performa motor tersebut. Tapi ketika dibandingkan dengan motor lain dan ternyata ujungnya mereka berimbang, apakah layak fitur tehnologi tersebut kita agung-agungkan?

Tentu ini bukan bicara antipati terhadap sebuah fitur tehnologi, tapi bicara end product sebuah paket utuh motor. Seperti kasus mesin toyota corolla yang dulu dianggap dohc “banci”, dari kacamata konservatif dibilang banci, bukan pure dohc, tapi dari segi manfaat banyak positif, karena ini bicara mobil kommuter, bukan balap.

Apalagi masih ada bingkai satu lagi yang menurut deka sebagai acuan fitur tehnologi tersebut value atau nggak. Ya seperti bajaj pulsar tadi, ngasih fitur plus harga yang value. Percuma ngasih fitur tehnologi tapi harga membumbung tinggi, motor menjadi tak terbeli.

Bagaimanapun fitur tehnologi motor merupakan nilai tambah. Entah nilai tambah dibandingkan versi lamanya, atau sekedar bisa menyamai kemampuan produk lain. Nilai tambah iya….keunggulan mutlak? Hmm…nggak…. Soal fitur tehnologi, kita kudu belajar dari kasus perang tehnologi rusia vs amerika. Saat amerika gembar-gembor, bangga dengan tehnologi hasil riset NASA yang menghabiskan anggaran jutaan dolar, yaitu ballpoint anti gravitasi agar bisa menulis di ruang hampa antariksa. Bagaimana rusia membalas tehnologi tersebut? Cukup dengan pinsil carbon seharga 1 dolar.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum