Memahami Psikologi Jalan…By Yoggie Mbah Zenghot Naga

suzuki

Yola dulur yang budiman… saat kumpul bareng, kopdar bersama club Addressia beberapa waktu yang lalu, bahasan pokok kala itu adalah safety riding dengan tema memahami “psikologi jalan” yang disampaiakan dengan santai oleh bro Yoggie Baskoro alias Mbah Zenghot Naga. Nah..kali ini akan ngadimin bahas dalam satu artikel.

Bicara berkendara di jalan umum, kita kadang hanya terpaku dengan skill riding kita. Kita hanya membahas satu aspek saja, dan terlalu mengagungkan skill berkendara. Menganggap bahwa jika kita sudah menguasai skill riding kelas wahid, maka kita akan selamat di jalan. Well… kalok berkendara di sirkuit tertutup sih pasti yang punya skill tinggi pasti lancar jaya.

 

Tapi bicara keselamatan jalan di jalan umum yang melibatkan ribuan pengguna lain yang punya karakter berbeda-beda, plus kondisi unprediktable lainnya apakah cukup dengan skill saja? Tentu tidak… skill memang penting, tapi itu baru dasar berkendara saja. Ibaratnya kita sudah menguasai puluhan jurus silat, tapi belum terlatih di perkelahian bebas tanpa aturan. Skill berperan di tehnik reaktif… padahal untuk menjaga keselamatan diri, tehnik preventiflah yang jauh berperan. Mencegah lebih baik daripada bereaksi. Disinilah fungsi memahami psikologi jalan.

Memahami Psikologi jalan adalah mengerti kebiasaan, aturan, kondisi yang dihadapi di jalanan umum , sehingga bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelah itu. Banyak tips-tips soal psikologi jalan. Kali ini, akan dicontohkan 10 poin saja sebagai bekal berkendara di jalan umum.

Gaya menikung

Secara singkat, tehnik menikung saat riding di jalan umum adalah kombinasi anatara menggunakan stang dan menggunakan berat badan saat berkendara kecepatan rendah-sedang. Sedangkan untuk kecepatan tinggi menggunakan beart badan untuk membelok ( cornering ). Jangan hanya mengandalkan belokan dari stang.

 Posisi dari kendaraan depan

Bagaimana kita beraksi terhadap kendaraan di depan kita, seperti contohnya mobil yang akan berputar balik, maka kita harus memposisikan diri dari garis luar arah dia akan menikung. Jangan berkendara persis ditengah belakang kendaraan besar di depan kita. Lebih cepat bereaksi jika kita berada di belakang samping daripada tepat dibelakangnya. Begitu juga dengan saat dibelakang angkot, lebih baik ambil sebelah kanan, karena kebiasaan angkot akan minggir ke kiri untuk mencari penumpang.

Saat ketemu kondisi kemacetan lihat 2-3 m didepan

gulf oil

Saat di kondisi macet yang crowded, belum tentu berkendara di sebelah kanan kendaraan lain lebih aman daripada di sebelah kirinya. Karena saat di sebelah kanan dan menyalip kendaraan lain di kondisi kemacetan justru membuat kita menghadapi banyak blindspot. Jika memutuskan mengambil posisi di sebelah kanan dan menyalip kendaraan di depan kita, lajukan motor dengan kecepatan sedikit lebih cepat saja dan pandangan fokus ke 2-3 meter ke depan dengan tehnik sapuan atau radar, yaitu pandangan menyapu kanan dan kiri.

Memahami karakter mobil yang sedang berbelok

mobil berbelok pasti dengan gaya parabolik, tidak ada mobil yang berbelok dengan gaya menyiku. Maka dari itu, kita harus memposisikan diri jangan sampai bertemu di satu titik parabolik belokan mobil lawan arah yang akan putar balik di jalur kita untuk menghindari tabrakan.

 Atur jarak dengan kendaraan depan selisih 3 detik

Untuk menghentikan laju kendaraan kita dari kecepatan 30 km/jam adalah sejauh 6 m. Maka dari itu agar tidak terjadi tusbol dari belakang, atur jarak dengan kendaraan depan kita sekitar 3 detik agar kita punya kesempatan menghentikan kendaraan motor kita di saat terjadi pengereman mendadak.

 Saat hujan kurangi rem depan

Saat kondisi hujan maka jalan akan lebih licin daripada kondisi kering. Maka tehnik mengerem biasa yang lebih banyak menumpukan rem di rem depan, saat kondisi hujan lebih baik didistribusi 50-50 dengan rem belakang. Hal ini dimaksud agar distribusi bobot lebih rata antara ban depan dan belakang, sehingga mengurangi resiko selip.

 Gunakan helm kualias bagus dan geraset warna cerah

Saat berkendara, apalagi kecepatan tinggi, maka kita akan mengidap sindrom tunel view. semakin tinggi kecepatan maka fokus pendangan akan menyempit, tidak bisa mengamati siktaran kanan dan kiri, seperti melihat terowongan, lurus ke depan. Disinilah letak fungsi gearset, dari helm sampai pakaian yang berwarna cerah seperti warna-warna stabilo akan memancing pandangan pihak lain lebih peka daripada warna netral atau alami. Begitu pula dengan kualitas helm yang bagus…untuk melindungi keselamatan kepala kita… otak adanya di kepala, bukan di pantat atau di dengkul. Sepatu riding bagus, ya harus helmnya berkualitas bagus juga kan?

Patuhi aturan lalu lintas

Tanda petunjuk lalu lintas dipasang bukan sekedar hiasan, namun itu sebagai pertanda kondisi di depan yang akan kita hadapi. Makanya baca aturan lalu lintas kemudian bereaksi sesuai kondisi yang akan dihadapi sesuai petunjuk lalu lintas tersebut. Kita tidak berkendara sendiri, tapi juga banyak teman berkendara lainnya. satu orang melanggar aturan bisa berefek domino ke pihak lain.

 Jangan provokasi di jalan

Salah satu unsur pokok keselamatan di jalan adalah soal emosi. Maka dari itu hindari provokasi pihak lain, seperti mengklakson panjang kendaraan lain, bleyar-bleyer saat berhenti, memotong jalur orang lain, petentang-petenteng ke pihak lain. Jika yang lain tersulut, maka emosi akan labil dan bisa memicu kecelakaan.

Santun di jalan

Berkebalikan dengan poin 9, jika anda santun di jalan maka respek akan kita peroleh. Sebisa mungkin hormati pengendara lainnya. Kalok pas ketemu tatap mata, senyumlah jika nggak memakai masker atau buff… atau sekedar menganggukkan kepala. Tapi jangan tebar pesona, apalagi jika anda cewe cantik, ngajakin senyum menggoda ke cowo sebelahnya, bisa berahi seketika, dan  malahbikin konsentrasi buyar….. :mrgreen .

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum