Masukan Buat Suzuki, Way To Live

suzuki
suzuki

Yola dulur…. artikel ini adalah gambaran keprihatinan deka, penulis dan penjaga warung akan nasib Suzuki. Sebagai salah satu dari pabrikan motor besar dari Jepang, nasib suzuki sangat njomplang dibandingkan duo kompatriot Jepang lainnya. Mungkin sedikit masukan ini bisa membuat Suzuki lebih baik, minimal memperbaiki nasibnya, bertahan untuk hidup di kerasnya dunia penjualan motor di marih, way to live, bukan way of life.

suzuki
suzuki

Bukan karena deka FBS, karena sekarang deka belum memelihara satupun motor suzuki. Namun biar seru saja, opini deka, sebuah pasar motor akan sangat kompetitif produknya jika minimal ada 3-4 pemain yang seimbang, bisa diambil contoh kek pasar India. Terakhir memakai motor suzuki adalah smash titan selama setengah tahun milik kerabat yang dititipin ke deka. Impresinya sih nggak beda ama motor merk lainnya, malah ada plus-plus di beberapa bagian. Dengan kualitas ala suzuki yang kagak perlu dipertanyakan, kenapa nasib suzuki bisa under 5 % ?

Dari pengamatan deka yang sangat terbatas ini, salah satu penyebab suzuki nyungseb adalah karena sikap suzuki, entah petinggi di marih atau petinggi jepang sono yang “nduablegh”, keukeuh, konservatif dengan idenya sendiri. Boleh saja punya way of life sendiri, namun itu berlaku jika menyasar pasar segmented, gengsi oriented, khusus loyalis yang pride dg produk suzuki. Namun kalau menyasar red ocean segmen ya suara konsumen adalah suara tuhan. Apa yang dimau konsumen itulah yang dibikin, baik fitur maupun desain.

Suzuki_nex
Suzuki_nex

Kalau alasannya diler yang terbatas karena banyak yang tutup, ini hanya efek sebab akibat saja. Kalau dirasa produknya laku banyak punya prospek bagus, diler akan tumbuh dengan sendirinya. Ya semua akan beres pada waktunya, tinggal pihak kumpeni mau berkorban atau enggak? Korban buang-buang duit untuk acara promosi, support diler baru dalam jangka waktu tertentu, katakanlah 2 tahun, pangkas keuntungan jual spare part de el el. Sudah bukan jamannya lagi jualan dengan berdiam diri, meskipun produknya kualitas dewa-dewi, kalau nggak diiklanin secara masive ya gimana publik bakalan tahu.

Tips yang paling mudah adalah merangkul media dengan baik, entah media asymetris seperti tv, majalah, koran,tabloid, web, sampai media symetris seperti blog…. Karena di dunia modern, media adalah penguasa, medialah yang menyampaikan dan memoles mindset ke telinga publik. Versi deka adalah suzuki kudu berani memelihara dan mendekati “jin” yang mampu membuat publik kesurupan masal 😀 . Di artikel lampau udah deka jabarin fungsi jin ini.

lahan piara jin
lahan piara jin

So… Semua. Kembali ke SIS selaku pemegang kebijakan suzuki di Indonesia. Kalau emang petinggi Jepangnya yang bebal…. Getok pakai setang piston agar mau terjun ke lapangan Indonesia, biar tahu mindset publik terhadap produk suzuki 😀 . Kalau masalahnya duit promosi terbatas, getok aja divisi mobilnya 😀 .

Well…. Artikel ini tentunya hanya obrolan ringan khas warung angkring. Dan tentunya petinggi sauzuki sudah paham jalan apa yang harus ditempuh, banyak staf ahlinya masing-masing. Beda ama deka yang asal njeplak saja 😀 . Gimana suzuki? Mau nyerah atau move on?

Bonus : Coming Back To Life… By Pink Floyd

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum

gulf oil

20 Komentar

  1. Slogan nya dari JALAN UNTUK HIDUP ganti aja jadi JALAN MENUJU KEHIDUPAN.
    Soalnya hampir pernah bosan selama 7 thn pake shogi 125 cuma ganti ban & rante doang juga filter oli. Odo ditahun ke 4 udah 9999,9. Pas cari part lain ga ada yg jual ( mungkin toko rugi kali nyetok part, tapi jarang dibeli, lama lagi).
    Lagian si Sz selalu keduluan inovasi, akhirnya ga laku. Makanya survey dulu model yg pasar mau, teknologi berikutnya tapi part sebar yg banyak.

Leave a Reply