Krisis Moral Nampak Di Karakter Pengendara, Empati Yang Hilang

suzuki

Yola dulur yang budiman…. terinspirasi dari pengalaman pribadi sehari-hari yang bisa ditemui di jalanan kita, baik di tol atau jalan umum. Karakter berkendara bisa menjadi salah satu cara membaca karakter publik, dimana saat ini kita sebut krisis moral. Walaupun bukan menjadi acuan satu-satunya, tapi bisa menjadi parameter karena berkendara melibatkan unsur emosional dan attitude seseorang.

Dimulai dengan kejadian saat ngadimin naik bus jurusan cirebon, sampai daerah Cikampek ada  penumpang yang naik. Karena merasa kursi masih sisa di deretan ngadimin, bapak tersebut saya persilahkan duduk di tengah. Namun anehnya, dengan santainya bapak tersebut duduk memakan lebih dari setengah bangku ngadimin juga. Sebagai gambaran, ngadimin duduk hanya satu paha saja. Herannya bapak tersebut tanpa merasa berdosa, tidak mau geser walau ngadimin desak-desak… Ya… itu salah satu contoh bagaimana kurang empati terhadap orang lain.

Ditarik ke pengendara, khususnya motor, kini banyak ditemui pengendara yang kurang empatinya terhadap pengendara lain. Mereka hanya fokus pada kepentingannya sendiri. Tidak semua memang, masih banyak pula pengendara yang baik. Tulisan ini semoga menyadarkan pihak yang masih egois dalam berkendara di jalan.

Dari dulu ngadimin bilang, bisa naik motor itu baru modal dasar berkendara di jalan. Masih banyak faktor lain agar kita menjadi pengendara yang baik di jalan. Ada faktor aturan lalu-lintas, attitude berkendara, dan yang penting keselamatan bersama pengendara, bukan hanya keselamatan sendiri.

Bisa jadi karena ketidaktahuan akan tatacara berkendara di jalan yang baik karena SIM nembak atau bahkan tidak punya sim. Namun faktor kesadaran dan mental lahyang berperan utama. Banyak sekali dijumpai pengendara yang akan melintasi simpangan, hanya bermodal klakson, tanpa mengurangi kecepatan. Aturannya, jika bertemu simpangan adalah mengurangi kecepatan. Klakson sendiri digunakan untuk menghardik pengendara lain, bukan sarana warning.

Ngadimin khawatirkan rasa empati para pengguna jalan sudah berkurang, mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, lebih cepat sampai tujuan tanpa memperhatikan pengendara lain. Khawatir mereka sudah tidak peduli dengan nasib pengguna jalan lainnya. Khawatir mereka sudah kehilangan kepercayaan bahwa orang lain mau tertib di jalan.

Jika kita sering dilihatkan kondisi pengendara luar negeri yang sangat tertib, memberikan akses jalan bagi kondisi darurat saat macet, masih jauh panggang dari api di jalanan kita. Budaya tertib luntur, budaya antri di jalan hal yang aneh. Ini tidak memandang pengendara di kota atau daerah….. sama saja.

Ngadimin tidak bisa merumuskan mana yang harus dibenahi. Tahunya hanya satu, mulailah dari diri sendiri untuk menjadi pengendara yang mempunyai empati terhadap pengendara lainnya. pemakai jalan bukan hanya saya, kita hanya menumpang lewat di jalan umum. Maka akan semaksimal mungkin menaati aturan agar sama-sama selamat.

Dulu ngadimin pernah bilang di sebuah artikel : Kesempatan memacu motor diatas 100 km/jam, bagi ngadimin adalah sebuah kenikmatan dan keberuntungan tersendiri. Kenapa? karena sangat susah ditemui di kondisi jalan raya kita sekarang, dimana jalanan padat atau ramai sehingga saat kita ngebut membahayakan pengendara lain. Berkendara kencang hanya bisa dilakukan saat jalanan kosong dan minim pengendara lain yang terlibat. Itu adalah ngebut yang aman.

So… mulai sekarang, ayo bersama-sama menumbuhkan empati, perasaan ke orang lain, dan dibawa ke gaya pengendara kita saat di jalan umum. Tidak usah menuntut pihak lain merubah moral kita, kita yang mulai dari diri sendiri, dan yakini satu orang brengsek telah hilang.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

gulf oil