Kenapa Demam R25 Nggak Kronis? ( Pandangan Deka )

suzuki

Yola dulur…. Urun rembug tentang mejennya ( ngga meledak ) penjualan R25. Ya…. demam R25 diibaratkan penyakit, bersifat akut…. bukan kronis. Meledak diawal-awal pereleasannya, namn makin ke sini makin berkurang. Jelas ini pandangan subyektif deka belaka, bukan obyektif karena deka sendiri ngga pernah survey ke konsumen langsung.

image
Yamaha-r25

Lho bedanya akut dengan kronis itu apa? Well… Penyakit akut itu bersifat singkat, gejala meledak-meledak, langsung ke level tinggi, dan berefek mematikan. Sedangkan kronis bersifat lambat, membutuhkan proses panjang, namun sifatnya progres makin parah. Kalau akut hanya bersifat singkat waktunya, kalau tertangani dengan baik maka lekas sembuh dan mempunyai kekebalan. Sedangkan penyakit yang melalui tahap kronis, maka pelan-pelan menggerogoti tubuh dan jika sudah taraf kronis, susah disembuhkan.

Berkaca dari sifat akut dan kronis, tentu yang diharapkan penjualan produk motor adalah akut yang dilanjutkan dengan kronis. Ya…. Penjualan meledak diawal, kemudian berlanjut dengan gejala kronis yang ditandai dengan awetnya tingkat penjualan, sukur-sukur makin kronis ( terbentuknya kepercayaan sehingga membentuk mindset khusus ). Kalau boleh dimisalkan, seperti penjualan ninja beberapa waktu yang lalu.

Nah… Kenapa R25 hanya bersifat akut, namun tidak melanjut ke kronis? Deka mempunyai opini sendiri, yah… Minimal ada 3 sebab. Disini deka fokus pada produk R25 itu sendiri.

gulf oil

1. Penyunatan Power
Sudah menjadi rahasia umum bahwa performa R25 tidak sesuai dengan gaung awal yang mencapai 36 PS on crank, sesuai ekspektasi awal. Hal ini mungkin untuk durability mesin. Walaupun ada alibi bahwa dengan power yang sekarang saja sudah cukup mengantarkan R25 menjadi yang paling powerful dibanding Ninja dan CBR250, namun tetap saja ini menciderai kepercayaan publik motor. Enggak sesuai dengan ekspektasi awal.

image
mesin r25 from iwb

2. Harga overprice
R25 memang dibandrol dibawah Ninja, yaitu sekitar 53 jutaan. Namun opini yang terbentuk di publik, buatan lokal harusnya sangat terasa perbedaannya dibandingkan impor. Perhitungan deka sendiri, dulu mengatakan bahwa harga R25 yang cantik adalah sekitar 45-47 juta, jika ingin menjadi motor dengan penjualan yang laris manis. Dengan harga yang sekarang jelas mengurangi poin keunggulan sebuah motor. Meskipun sekaranga ada diskon 7 juta, namun justru itu menambah kesan negatif… Membuktikan bahwa ini motor overprice.

3. Bahan bodi tidak mengimbangi sektor mesin
R25 dilihat dari mesin dan desain sudah sangat oke. Khususnya mesin, dan riding agility, deka acungin jempol… Mungkin motor ini yang menjadi idaman biker motor 250 cc twin silinder. Kekuatan utama R25 ada disini. Namun sayangnya nggak diimbangi dengan kualitas bahan bodi yang menunjukkan ini motor dengan harga jauh diatas 150 cc. Apalagi kalau diamati secara khusus, mosoll motor 50an juta bahan bodi mirip harga 30an juta? Apalagi dengan minusnya monocross link dan sektor dashbor yang berkesan semrawut. Deka sendiri nggak berani menunjukkan hal-hal detail lainnya karena akan berkesan black campain.

Itulah pandangan deka akan motor sport full fairing 250 twinsil-nya yamaha. Di kesempatan lain, kita bahas apa yang bisa mengangkat pamor R25 agar menjadi dream bike 250 cc.

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum