Era Carbon Fiber Sasis…. Ya, Sudah Dimulai

suzuki

Yola dulur yang budiman…. Dalam dunia otomotif, jangankan motor, dunia mobil pun jika mendengar komponen yang terbuat dari serat karbon/ carbon fiber tentu image-nya keren bin mahal nan eksotis. Bahkan saking kerennya, beberapa part motor dibuat dengan warna corak serat karbon. Di dunia motor riil, era carbon fiber tidak hanya untuk komponen asesoris saja, namun sudah dimulai untuk sektor sasis.

Contoh yang paling mudah tentu saat motogp seri losail kemarin, dimana team HRC sudah menyematkan carbon fiber di swing arm RCV mereka. Menyusul motor Ducati yang memakai lebih awal. Respon pembalapnya pun mengatakan ada hal positif dengan penggunaan swing arm carbon fiber, walaupun efeknya berpengaruh ke penyesuaian riding style.

Untuk saat ini jelas, penggunaan carbon fiber sangat-sangat terbatas, karena harganya sangat mahal, melebihi bahan alumunium alloy. Untuk saat ini  memang lebih mahal, karena mass product belum terjadi, berbeda dengan alloy yang sudah massal digunakan, even di motor produksi. Makanya hanya team kaya raya bin tajir seperti ducati dan honda saja saat ini yang berani uji coba. Sebenarnya ada team yamaha, namun entah kenapa belum nampak, atau dmunculkan riset penggunaan serat karbon di sasis mereka.

Sebenarnya, ada pabrikan yang sudah memulai penggunaan serat karbon di motor produksi massal mereka, yaitu BMW, di motor BMW HP 4 mereka. Khusus untuk pabrikan jerman satu ini memang yang terdepan dalam riset serat karbon di komponen otomotif mereka. untuk sasis sudah dimulai dari swing arm. Jika komponen bodi saja mungkin lebih mudah karena bentuk serat karbonnya lembaran, namun jika menyangkut sasis atau swing arm, tentu lebih kompleks karena menyangkut stiffness dan strength.

Seperti yang diutarakan oleh Corrado Cecchinelli, yang dulu ikut terlibat proyek carbon fiber di kotor ducati, keunggulan serat karbon adalah soal stiffness atau kekerasan yang maksimal, melebihi logam alloy, dengan bobot lebih ringan. dalam kasus swing arm, bahan seart karbon bis memangkas bobot 1/2 kg daripada alumunium alloy.

gulf oil

Namun keunggulan mutlak serat karbon dibandingkan alumunium adalah bisa membuat target “stiffness” atau kekerasan yang berbeda di suatu titik tertentu di komponen yang sama. Gampangnya begini Lur, untuk sasis dan swing arm, kekerasan tidak dibuat merata, di sebuah titik tertentu dibuat lebih keras dibandingkan titik lainnya. Dengan penggunaan serat karbon, hal tersebut bisa dilakukan dengan mudah karena bentuk serat karbon yang lembaran-lembaran tipis seperti kain. Berbeda dengan alumunium yang rentan dengan ketebalan minimal saat membuat variasi kekerasan. Resikonya, jika terlalu tipis, maka komponen di titik tersebut akan mudah patah. Dengan serat karbon, insinyur atau desainer bisa membuat variasi titik kekerasan yang berbeda-beda di sais atau swing arm motor mereka, tanpa khawatir dengan strength atau daya kekuatannya.

Kelemahan pengunaan serat karbon untuk sasis atau swing arm, selain untuk saat ini masih sangat-sangat mahal, fakta lain tentang serat karbon. Yaitu faktor safety, dimana kerusakan serat karbon tidak bisa diamati secara langsung. Saat motor terjadi crash, maka jika terjadi kerusakan di serat karbon tersebut, investigasi harus menggunakan x-ray yang ada di laboratorium pabrik. Meskipun ketika motor hanya jatuh saja, serat karbon harus diinvestigasi di laboratorium untuk melihat komplikasinya. Sehingga komponen harus diganti dengan yang baru…. tentu sangat mahal bukan?

Yang pasti, sasis atau swing arm serat karbon adalah sebuah kepastian kedepannya. Faktor biaya yang mahal akan tereduksi secara signifikan dengan tehnologi pembuatan, dan sekarang BMW sudah mengarah ke sistem produksi masal komponen yang terbuat dari serat karbon di produk motor dan mobil mereka. Tentu ini akan sangat menolong team-team yang biaya risetnya terbatas, tidak perlu riset dari nol yang memakan banyak biaya. Tinggal membeli tehnologi BMW, woillaaa…. punya sasis atau swing arm carbon fiber.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum