Dari Ndrindil, Susahnya Jaga Mata, Sampai Kondektur Culas

suzuki

Yola dulur….. beberapa waktu yang lalu deka melakukan perjalanan dari Cirebon sampai Bandung untuk menghadiri hajatan kerabat. Berhubung dilarang naik motor oleh bundanya anak-anak karena mata ini memang payah untuk perjalanan malam ( lagian stnk belum diperpanjang…telat 😀 ). Akhirnya deka menggunakan jasa transportasi Bus.

traveling by bus
traveling by bus

Targetnya adalah bus yang sudah ber-ac, alasannya simpel biar nggak mengganggu dan terganggu oleh aktivitas perokok. Ya… meskipun deka sendiri hobi merokok alias fogging diri ini ( 😀 ), namun deka enggan aktivitas merokok deka mengganggu orang lain. Begitu pula jika saat deka pas nggak merokok, kanan kiri kebal-kebul ya sumpek juga. Kalau rejeki nggak kemana, kebetulan beberapa saat setelah sampai di jalan raya Jamblang, sebuah bus jurusan Cirebon Bandung berhenti, AC Patas ada ruang khusus perokok…. jossss…..bisa ngerokok tanpa mengganggu orang lain nih.

Ada kisah agak konyol saat perjalanan malam itu, membuat penulis sedikit merenung. Orang biasanya naik bus ber-ac adalah agar nyaman, sejuk, tidak gerah, perjalanan akhirnya menyenangkan sampai tujuan. Namun ini menjadi sebuah kejadian kontradiktif, hampir semua penumpang memakai JAKET.

Nah… loh….. nyari yang sejuk kok malah pakai jaket, harusnya pakai baju biasa namun udaranya sejuk tidak panas, agak dingin, sejuk seger gitu. Lha ini kok malah jaketan semua…..bus yang ber-ac ini dinginnya kayak masuk kulkas. Deka yang emang bawaannya nggak tahan amat dengan yang namanya ac akhirnya “ndrindil” alias menggigil kedinginan sepanjang perjalanan yang hampir memakan waktu 4 jam itu. Padahal deka sudah memakai jaket, akhirnya perjalanan bukannya nyaman namun tersiksa oleh dingin, sama saja tersiksanya dengan naik bus yang gerah, namun bayar lebih mahal…. 😀 .

Singkat cerita, setelah sampai di Bandung dan menghadiri hajatan, ane pulang lagi ke Cirebon pagi harinya. Setelah diantar oleh kerabat untuk menunggu bus, diputuskan menunggu bus di daerah komplek kampus Jatinangor karena bus arah Cirebon semua lewat situdan rata-rata bus mangkal,berhenti sebentar mencari penumpang. Siieett…. setelah sampai di tekape, si kerabat langsung pamitan pulang tidak menunggui deka mendapatkan bus, oke…ndak masalah…toh emang nggak tahu kapan dapatnya bus arah Cirebon itu, lha wong nggak tahu jam trayeknya kok.

ilustrasi
ilustrasi

Saat menunggu bus itulah deka merasakan lagi gairah aktivitas sebuah kampus yang pernah deka alami belasan tahun yang lalu. Apalagi waktu itu pagi hari, bener-bener terasa dah kehidupan di sebuah kampus. Mahasiswa, mahasiswi lalu-lalang turun dari kendaraan menuju ke fakultas mereka masing-masing, ada yang naik motor, mobil, angkutan umum, dan jalan kaki, ada pula yang jogging rame-rame karena kuliah siang. Nah di sinilah sumber masalah itu buat ane, tahu sendiri kan Bandung itu kehidupannya kayak apa, yang namanya kaum hawa itu jiaaannnnn…. modis-modis, seger-seger, nyebarin hormon feromon kemana-mana 😀 .

gulf oil

Namanya juga cewek yang lagi transisi dari muda ke dewasa, daya tariknya itu lho…. jian ……bikin mata nggak capek….. bener-bener “vitamin A” dosis tinggi, baik buat mata 😀 . Deka yang sudah berjanji untuk jaga mata, konsentrasi buyar…daya tarik keindahan itu membuat susah untuk jaga mata. Duh….. untung ingat 2 anak dan istri di rumah, membuat darah kelaki-lakian nggak mendidih terbawa suasana…. yah hanya hangat suam-suam kuku lah 😀 . Untung hanya satu jam dari itu bus yang ditunggu datang, jadi nggak larut terbawa suasana, kalau lama lagi bisa jebol juga iman ini 😛 .

ilustrasi
ilustrasi

Perjalanan ke Cirebon itu kembali mendapatkan bus patas ac, sayangnya nggak ada ruang khusus buat perokok, kahirnya nahan ngerokok sampai tempat rest area dan sampai tujuan. Nah… di bus inilah deka mengalami peristiwa agak janggal lagi. Beberapa saat setelah duduk, kondektur mendekati deka untuk pembayaran tiket perjalanan. Pelayanannya agak berbeda saat berangkat kemarin, kali ini kondektur sedikit mendekati dan berbisik, ” pak… tarif resminya adalah Rp 50.000,- , namun anda bisa bayar 30 ribu, asal ngikut aturan main kita, mau nggak ?”. Ane agak bingung, dan bertanya, ” maksudnya gimana mas ? “. Kondektur itu menjelaskan ” Nanti bapak sebelum pemeriksaan di rest area turun dulu, naik angkot sampai pertigaan Sumedang, nanti kita berhenti lagi di situ untuk naik, udh ada temannya 4 orang tuh.”

Awalnya tertarik juga, selisih 20 ribu, lumayan juga tuh…namun hati ini  seperti berbisik… ini nggak jujur……akhirnya deka lebih milih bayar penuh sesuai tarif resmi sajalah, daripada berlaku nggak jujur. Bukannya nggak menghargai uang, 20 ribu buat ane termasuk gede, namun apalah jumlah uang jika dibayar dengan ketidak jujuran. Memang ada kesempatan yang diberikan oleh oknum kondektur, tapi jika ane ikutin tuh permainan, kasian perusahaan bus tersebut. Kalau hampir semua melakukan ini apa nggak tekor tuh perusahaan? jika penghasilannnya banyak yang ditilep, nanti perawatan busnya akan terabaikan dan akhirnya mengundang celaka buat penumpang lainnya. Dan aen ikutan terlibat di proses itu dengan “mengirit” 20 ribu.

Enggak…… ane nggak mau seperti itu, ane tahu rasanya dicurangi…. bahkan terlalu sering….. makanya ane ogah mencurangi orang lain…..kalau ane nggak mau dicurangi, maka ane juga kudu nggak mencurangi pihak lain. Akhirnya perjalanan dilanjutkan, karena nggak tidur semalaman, ane  terlelap di perjalanan itu. Dan berujung pada…… kelewatan…….. yang harusnya turun di Jamblang tapi bangun-bangun sudah sampai Plumbon…. sekitar 5 km dari titik target.  Akhirnya minta jemput ama bini dah 😀 .

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum