Crying In The Rain

suzuki

Yola dulur yang budiman…. Jejak kehidupan kali ini menceritakan kisah pedih percintaan si Fulan dengan pacarnya. Berawal dari obrolan dengan umm Moesa soal lagu-lagu jadul AHA, ngadimin jadi ingat sebuah lagu dengan judul Crying In the Rain. Kok hampir sama persis dengan si fulan yang pandai menutupi kepedihan hatinya ketika harus putus dengan pacarnya.

Beberapa hari setelah lebaran, ketika si fulan mudik ke kampungnya, ada telephon masuk jam 21.00. Tertera nama calon ibu mertuanya di layar hape sony ericsson si fulan. Awalnya dengan sukacita si fulan mengangkat hapenya, calon mertua nelphone harus disambut dengan ramah. Namun saat awal mendengar nada suara yang meninggi, si fulan punya firasat tidak baik…. Ada sesuatu yang buruk malam itu.

Benar juga, mendadak ibu pacar si fulan marah-marah…. ” Elu apain anakku? Sudah kubilang putus saja!!! Jangan dekati lagi anakku!! Ini malah sembunyi-sembunyi berhubungan! Pokoknya Jika kamu ketahuan bertemu dengan anakku, akan aku laporkan ke polisi, melarikan anak orang! Anakku sudah aku larang bertemu denganmu lagi, dia nggak boleh keluar rumah selain sekolah!!!”

Sambil mendengarkan kemarahan ibu pacarnya, si fulan mendengar isak tangis gadis kesayangannya di belakang suara ibunya. Sepertinya dia juga sedang disidang oleh kedua orang tuanya. Kemudian ibunya berbicara lagi ” Anakku sudah aku bilangin, jika masih pacaran denganmu, aku suruh pergi dari rumah, nggak kuakui lagi sebagai anak!!”. Mendengar kalimat itu, hati si fulan gundah gulana, belum bisa berpikir jernih…..

Terbayang ucapan pacar yang paling dicintai dibandingkan mantan-mantannya dulu, ketika mereka bertemu sebelum bulan puasa, si gadis berkata ” Mas…. mamah minta kita putus….. Aku disuruh fokus sekolah dulu, mamah sudah nggak suka dengan mas….” sambil berlinang air mata. Si fulan sendiri pacaran dengan gadis ini awalnya juga direstui oleh ibu gadis tersebut, bahkan sangat mendukung. Entah kenapa sekarang sikapnya sekarang berubah 180 derajat.

Tiba-Tiba si Ibu dengan nada tinggi berkata, ” Nih, anakku biar ngomong langsung, dia memilih tinggal di rumah dan putus denganmu, ngga usah ketemu lagi!”. Sesaat terdengar hape yang beralih tangan. Belum sempat si fulan berucap, ada suara yang selalu menggetarkan hati si fulan, ” Mas…. aku ikut mas saja….. aku ikut mas kemanapun mas pergi… aku rela nggak sekolah demi ikut mas…. ajak aku mas…..”. Belum selesai ucapannya, tiba-tiba hape ada suara bergemuruh dan mati….. sepertinya hape direbut dan dimatikan.

Setelah kejadian tersebut, si fulan sangat gelisah, gundah gulana. Akhirnya dia putuskan menghubungi teman pacarnya, meminta untuk diatur agar bisa bertemu dengan pacarnya yang sekarang diawasi oleh orangtuanya. Singkat cerita, 3 hari setelah kejadian itu, si fulan balik ke kota tempat dia bekerja untuk sekedar bertemu dengan pacarnya meski masih masa liburan panjang.

Untungnya, teman karib si gadis tersebut sangat dipercaya oleh ortu si gadis, sehingga bisa diajak keluar dengan mobilnya, dengan alasan silaturahmi ke guru sekolahnya. Janjian di sebuah taman, si fulan yang menunggu di samping mobilnya melihat honda jazz yang berhenti, dan kemudian muncul gadis yang sangat cantik di matanya keluar dan langsung berlari ke dirinya sambil menangis tersedu-sedu. Langsung memeluk erat si fulan sambil mencurahkan semua tangisan beban hatinya.

” Aku sudah nggak kuat… Aku ikut mas saja…. kita nikah saja mas…. biar kita bisa selalu bersama… “. Si fulan yang paham betul dengan emosi pacarnya hanya bisa menatapnya dalam-dalam, gadis yang berselisih umur 10 tahun inilah yang paling menancapkan perasaan terdalam ke hati si fulan. Namun si fulan juga punya sisi logika yang kuat. Pergulatan logika dengan emosi bercampur aduk di dalam dadanya.

Bagaimanapun, dia hanyalah gadis belasan tahun yang emosinya masih labil. Bagimanapun juga, dia berhak akan kasih sayang orang tuanya, kedekatan, kehangatan relasi dengan orang tuanya. Bagaimanapun juga dia berhak dengan masa depan cerahnya, dengan kemampuan dan prestasi yang dia raih selama ini. Si fulan tahu betul kemampuan dan keahlian gadis kesayangannya tersebut. Namun dilain sisi, dia juga tidak mau berpisah dengan kekasihnya itu. Bidadari centil yang menancapkan pasak hati yang sangat dalam…… sangat-sangat dalam…. entah bagimana rasanya jika pasak tersebut sampai dicabut, perasaaan pedih yang sangat luar biasa.

Namun si fulan juga tidak tega memisahkan bidadarinya dari kedua orang tuanya, dari keindahan masa-masa remaja seorang gadis. Bisa saja si fulan menikahinya tanpa restu orang tua….. Akhirnya si fulan lebih memilih mengalah dari egonya. Si fulan lebih memilih rasa pedih terserabutnya pasak hati yang tertancap dalam. Si fulan pada momen itu hanya bilang ke kekasihnya, ” Sayang… emosi kamu masih labil, nggak boleh ngelawan orang tuamu, aku yakin sampai saat ini kamu bertengkar dengan orangtuamu, khususnya ibumu. Itu tidak baik. Minta maaflah ke mereka. Mas belum bisa membawamu sekarang, apalagi tanpa sepengetahuan ortumu. Mas hanya ingin kita menikah dengan restu ortumu.  Mas ngga tega memisahkanmu dari ortumu, Masa depanmu masih sangat panjang, dan percayalah, kamu sangat berbakat. Kita jaga jarak dulu sampai situasi mereda, barangkali nanti ortumu bisa berubah sikap.”

Ucapan si fulan ternyata belum tercerna secara baik oleh pikiran gadis belasan tahun. ” Mas tega banget membiarkan aku dalam kondisi tersiksa seperti ini…. Mas meremehkan niatanku untuk hidup dengan mas….Aku rela mengorbankan semua demi bersama mas…..” si gadis berbicara dalam tangisnya. Si fulan hanya memeluk erat si gadis, ” Aku juga rela melakukan apapun untuk kebaikanmu sayang…. bahkan ambil hatiku, biarlah aku hidup tanpa hati yang kau bawa…. aku rela…. untuk kebaikanmu…” ucap si fulan. ” Sekarang yang penting tenangkan hatimu, perbaiki hubunganmu dengan ortumu, kita jaga jarak dulu, kita masih bisa telephon-telephonan”. Sebenarnya jika tidak dihalangi oleh keangkuhan sikap laki-lakinya, si fulan juga ingin menangis melihat kepedihan kekasihnya. Dia lampiaskan dengan memeluk erat dan menciumi dahi bidadarinya itu.

Setelah itu, si fulan kembali ke kampungnya. Sepanjang jalan, air matanya tak henti mengalir. Namun dia sudah memutuskan untuk menjaga jarak dengan kekasihnya, melepaskan bidadari centilnya untuk kembali ke pelukan orang tuanya. Melepaskan segala perasaan hatinya agar bidadarinya menjadi gadis remaja pada umumnya yang bebas bermain dengan teman-temannya, bersenda gurau dengan ortunya, menikmati hangatnya jalinan kasih anak-orang tua.

Ketika hapenya berbunyi, dan bidadarinya menelphone, si fulan memilih untuk tidak mengangkat, ketika ada sms masuk yang menanyakan perubahan sikapnya, si fulan hanya menjawab, ” aku tetap mencintaimu, tapi dunia kita sangat berbeda, kamu tetaplah gadis kecil orang tuamu. Jika ortumu merestui, sampai kapanpun pintu terbuka lebar buatmu.” di waktu-waktu berikutnya, jika ada telphone dari kekasihnya, si fulan tidak mengangkatnya lagi, padahal dia ingin… ingiiiiiiiinnnn sekali mendengarkan suara centil bidadarinya, walu hanya sesaat. Namun si fulan berkomitmen agar kekasihnya kembali ke kedua ortunya lagi. Dia tidak mau menyiksa bidadarinya dengan perasaan asmara mereka berdua.

Si fulan sepertinya nampak dewasa dan matang, memilih jalan yang bijaksana daripada ego cintanya. Memilih memadamkan gelora asmara di dalam hati untuk kebaikan kekasihnya. Nampak tegar sekali…. Padahal dia selalu menangis di dalam hatinya, si fulan selalu menjaga api asmara di dalam relung hati, tapi dia simpan dalam ruang khusus dalam hatinya. Meskipun api yang dia simpan sering menyiksa, membakar hati, si fulan memilih melakukannya… Memilih kelihatan tegar, walau hatinya perih… menangis….. Crying in the rain…..

 

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

gulf oil