Cerita FBH Kampung Yang Gagal Mengikuti Zaman

suzuki

Yola dulur yang budiman… ini adalah cerita riil, bukti bahwa masih sangat besar efek mindset harga jual merk Honda adalah pertimbangan utama untuk meminang sebuah motor. Khususnya di daerah seperti Jawa tengah, Jawa Timur, serta yogyakarta. Salah satunya ya FBH kampung, siapa lagi kalau bukan babe ngadimin sendiri di magelang sono. Dan sepertinya kakung, sapaan kesayangan ngadimin ke babe gagal mengikuti perkembangan zaman.

Seperti pada artikel beberapa waktu yang lalu, ngadimin menerangkan hukum pasar secara umum tentang harga motor seken. Pada dasarnya, harga seken motor tidak terikat dengan sebuah merk, namun berpatokan pada demand, serta trend mindset keinginan konsumen motor seken. Bagaimana dulu saat suzuki satria berdiri sendiri, harga sekennya sangat-sangat bagus, atau yamaha mio saat jayanya dulu, pun demikian dengan ninja 150 2 tak. Dan sebuah merk bukan jaminan harga seken motornya selamanya bagus. Tentu dulur masih ingat dengan harga CS1, Tiger, dan yang terkini supra GTR. Bahkan harga seken motor bebek segala merk sekarang juga letoy.

Memahami Harga Motor Seken, Ada Yang Jatuh, Ada Yang Stabil

Disinilah FBH kampung, babe ngadimin tidak mengikuti zaman. Ceritanya ngadimin menelphone babe untuk menanyakan kabar keluarga. Karena sesama penggemar motor, akhirnya ngobrol soal motor. Babe mempunyai sebuah metik, Vario 125 lansiran 2016 yang dibeli cash saat itu. Kalau tidak salah harganya sekitar 18.,5 juta rupiah. Kemarin rencananya mau dijual dan ingin mengganti menjadi 2 metik, pilihannya suzuki address dan suzuki Nex II buat ibuk ngadimin.

Saat ditawarkan ke makelar motor temannya, ternyata hanya ditawar sekitar 13 sampai 14 juta rupiah saja. Kakung bilang ke ngadimin, ” kok harganya sekarang turun banget ya, beda jaman dulu? ” Ngadimin menerangkan bahwa harga segitu, sudah cukup bagus untuk sekelas motor seken zaman sekarang, paling bagus malahan. Pola pandang kakung sepertinya masih berpatokan seperti zaman dulu, dikiranya vario 125nya akan ditawar sekitar 16-17 juta rupiah. Karena motornya km rendah, 5000 km dan barangnya mulus karena dipakainya hati-hati.

Kakung masih membandingkan motor jaman supra x 125, honda grand impressa, serta honda prima dulu yang harga sekennya manteng bagus. Apalagi kakung terbiasa membeli motor seken, dipakai beberapa tahun dan dijual tidak rugi. Kakung sempat bilang, ” Mending piara motor seken saja, harga jualnya nggak begitu jatuh, malah bisa untung kalau ketemu calon pembeli yang naksir berat. ” Ini menjadi bukti bahwa opini ngadimin di artikel diatas ada benarnya. Jika anda ingin mempunyai motor yang harga jual baliknya tidak begitu jatuh, belilah motor seken secara CASH. 

Akhirnya kakung nggak jadi jual metiknya, katanya mending dipakai sampai tua ( padahal umur beliau juga udah tua… :mrgreen: ), daripada dijual lagi selisih 4-5 juta dari awal beli. Ngadimin mengamini… ya pakai saja, ndak usah pengin motor macem-macem. Kalau pengin motor suzuki, ntar ngadimin pinjemin. varionya disimpan saja, dipakai saja toh hanya buat muter dari rumah ke pasar toh??? Untung dulu kagak jadi beli tiger, bisa pingsan berdiri… beli harga 26 juta, jual lagi laku 13 juta rupiah….. :mrgreen:  :mrgreen: .

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

gulf oil