Bu Guru Meiriska VS Klub Motor…. Sebuah Hikmah

Yola dulur yang budiman…. saat awal postingan medsos soal curhatan bu guru Meiriska tentang klub motor, ngadimin nggak begitu tertarik. Begitupun tidak mengikuti apa yang terjadi setelah postingan tersebut. Baru ketika disodorin info bahwa bu guru meiriska bertemu dengan perwakilan klub dan membuat surat perhonan maaf diatas materai, baru deh tergugah untuk membuat sebuah artikel membahas “insiden” ini. Cukup kita ambil hikmahnya saja.

Membaca postingan pertama, ngadimin rasakan biasa saja. Kenapa? karena ngadimin memaknainya secara holistik…. keseluruhan bahasan, baru diambil kesimpulan. Tidak terlalu memperhatikan kalimat per kalimat, hanya mencari apa sih yang ingin disampaikan. Ternyata bu guru ini mengeluhkan sepak terjang klub motor yang dia temui di jalanan, kemudian curhat di medsos…. itu saja dari pemahaman ngadimin. Namun itu adalah contoh stereotip atau penyamarataan sebuah kasus, dia menganggap semua klub motor polahnya seperti itu.

Dan percaya atau nggak, sebagian besar warga kita ya seperti bu meiriska ini, stereotip. Beberapa kasus mewakili keseluruhan. Dan itulah yang terjadi di warga kita, pandangan mereka terhadap sebuah klub motor. Sekelompok orang naik motor yang ugal-ugalan.

Bagi klub sendiri, yang berisikan anak-anak muda, mungkin ada yang masih gampang mendidih. Sehingga kurang bijak dalam memahamai ungkapan secara holistik. Apalagi dicap stereotipe seperti itu. Ngadimin sendiri tahu, tidak semua klub motor ( banyak bahkan ) berperilaku buruk. Respek besar bagi klub motor seperti itu, rasa kebersamaan begitu kuat, banyak aktivitas sosial yang dilakukan oleh klub-klub motor. Wajarlah mereka merasa gusar dengan reaksi publik jika membaca postingan bu guru meiriska. Bisa memberikan citra buruk terhadap semua klub motor.

Lebih baik ambil hikmahnya saja. Yang namanya media sosial berisi jutaan isi kepala yang berbeda-beda. Tipikal orangnya juga macam-macam, ada yang bersumbu panjang, sumbu pendek, penthol korek, detonator, atau yang acuh tak acuh. Satu kalimat bisa menjadi berbagai macam persepsi. Berhati-hatilah menggunakan medsos, apalagi bergesekan dengan sebuah perkumpulan. Bijak-bijaklah memilih bahasa, dan ngadimin sendiri belajar seperti itu.

Bagi komunitas klub, kejadian ini adalah sebagai kacadiri, introspeksi sehingga berperilaku lebih baik di jalan. bangunlah image positif di jalan. Ingat, tiap individu mewakili klub motor, apapun klub motor jenis apa, warga tahunya klub motor titik. Satu berperilaku buruk, stereotipe warga beraksi…. anda semua kena getahnya. kasus ini sudah menjadi gambaran image publik awam terhadap sebuah klub motor.

Namun untungnya semua selesai dengan baik, kedua belah pihak sudah sepakat saling memaafkan dan menganggap selesai masalah. Intinya di situ sih…. yang penting selesai dengan damai dan baik.

Tidak usah menunjuk hidung orang lain, lebih baik kita memperbaiki attitude kita sendiri, dan percayalah, jika anda melakukan hal tersebut, satu orang brengsek di dunia ini telah hilang menjadi orang baik.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

gulf oil