Blogger Obyektif? Hmmm…. Langka……

suzuki

Yola dulur yang budiman….. bicara soal dunia perbloggeran, khususnya blogger motor, akhir-akhir ini ramai dengan istilah blogger amplop, blogger ternakan, bogger idealis, atau blogger obyektif. Sebagian pembaca menginginkan kembali adanya blogger yang benar-benar obyektif, sehingga bisa menjadi pegangan pembaca untuk menentukan pilihan meminang motor. Adakah  ada model blogger seperti itu? Hmm…… langka Lur.

ilustrasi-pengunjung-blog_663_382

Deka bilang langka karena blogger yang dianggap obyektif itu haruslah blogger yang benar-benar tidak punya kepentingan apapun saat mengulas motor, kecuali hanya ingin menyajikan hasil riil apa adanya ulasan sebuah motor untuk pembaca. Hasilnya pun bukan berupa rasa, namun dalam bentuk angka karena bahasanya lebih universal. Semua ulasan baik sisi positif maupun negatif diungkap semuanya di artikel yang dipublish. Dan itu dilakukan secara konsisten di setiap artikel yang diterbitkan, tidak punya tendensi apapun kecuali untuk pembaca, dan motor sebagai obyek…. bukan subyek.

Biar lebih fair, deka akan ngomongin deka pribadi dulu daripada blogger lain. Apakah dengan tulisan ini deka ingin menunjukkan bahwa deka seorang blogger yang obyektif? Jawabannya TIDAK. Deka adalah blogger yang mengulas motor secara subyektif. Apa yang dirasakan deka, ya akan ditulis seperti itu. Sedangkan rasa deka, seperti nyaman, kencang, enak, bagus, irit itu menurut yang deka rasakan. Padahal nyaman buat deka belum tentu nyaman buat dulur sekalian kan? Subyektif sekali.

Mengharapkan blogger yang obyektif, menurut deka seperti mencari jarum yang jatuh di tanah… ada tapi agak sulit untuk nemuin. Apalagi di jaman yang apa-apa bisa dikomersilkan seperti sekarang ini. Bahkan tulisan blog saja bisa dikomersilkan, blog dikomersilkan, ide dikomersilkan. Bukan salah pengomersilannya itu, tapi budaya kita yang masih besar ewuh pakewuhnya yang jadi masalah. Masak udah dikasih amplop, dibayarin, dipasangin iklan tapi menulis keburukan produk yang ngiklanin? sampai gacar juga ogah lah…..udah dienakin kok njelek-njelekin, bahas sisi negatifnya? Nggak sopan sama sekali…. ini budaya timur kita.

Jadi meminta blogger komersil jadi blogger obyektif ? berat dulur sekalian……. Yang tidak komersil pun, kita juga akan susah mengharapkan seorang blogger menjadi obyektif, karena sudah manusiawi kalau tiap orang punya rasa spesifik terhadap pilihannya. Seperti deka misalnya, jika ngefans terhadap satu merk motor, maka cenderung akan mengerem nulis artikel keburukan merk yang deka sukai, walau blog deka tidak dikomersilkan, kecuali dari pihak wordpress. Belum lagi ulasan yang menyangkut feel, enak, nyaman, etc, itu subyektif deka, bukan obyektif.

ilustrasi-blog

Terus bagaimana caranya agar pembaca bisa menilai sebuah produk motor yang terbaik buat dirinya? Well…. deka cuma bilang : Perbanyaklah membaca dari berbagai macam sumber, makin banyak makin baik, kumpulkan sisi positif dan negatifnya, nilai sendiri sejauh mana sisi positif yang anda butuhkan, dan sisi negatif mana yang masih bisa anda tolerir. Karena produk manusia tidak ada yang sempurna, tetap punya 2 sisi ini.

Dan yang paling cespleng, langsung ke TKP, amati sendiri motor yang akan anda pilih, cobain motor-motor yang ada di list anda, jajalen dewe, kemudian tentukan sendiri motor mana yang anda anggap paling cocok. Kalau ini anda lakukan, maka anda sudah tidak peduli lagi mana blogger obyektif atau subyektif. Biarlah blogger memilih jalan mereka masing-masing, mau jadi blogger komersil, atau non komersil….. bahkan jadi blogger pelacur melacur, semua punya resiko sendiri-sendiri yang akan dirasakan oleh masing-masing blogger.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

gulf oil