Aku Mencintaimu….Tapi Aku Harus Pergi

314649.jpg

Yola dulur yang budiman….udah lama nggak menulis artikel jejak kehidupan. Untuk hari ini off ngomongin motor dulu. Kita akan obrolin kisah kehidupan si fulan, yang kali ini menyangkut kisah asmaranya. Si fulan ini tipikalnya emang seneng ma perempuan cantik, garapannya banyak, tapi begitu cinta sama satu orang, maka perasaannya kebangetan, super duper serius.

Kisahnya dimulai saat doi dikenalkan ama klien kerja yang kebetulan punya anak perempuan. Singkat cerita akhirnya si fulan dan si gadis tersebut berpacaran dengan restu orang tua si gadis. Namun sejalan dengan waktu, si orang tua gadis tersebut mengurungkan niatnya karena ternyata hubungan kedua insan ini semakin serius.

Si fulan yang terkenal suka koleksi perempuan ini kalok bener-bener jatuh cinta maka akan serius, dan ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Karena sama-sama suka, si gadis juga setuju, walau saat itu masih sekolah. Pihak ortu meminta jalinan kasih kedua insan ini dihentikan karena ingin anaknya fokus sekolah. Sebenarnya si fulan sudah mengajukan pertimbangan, dia akan menunggu si gadis selesai sekolah baru si gadis dinikahi. Namun ortunya keukeuh nggak mau, pokoknya harus putus saat itu juga.

Bagaimanapun ikatan 2 hati yang saling kasih itu tidak bisa dihalangi oleh apapun. Walaupun dilarang oleh ortunya, mereka tetap berpacaran secara diam-diam…backstreet. Menurut si fulan, pacaran backstreet tersebut berjalan 1 tahun. Mereka sembunyi-sembunyi untuk saling jumpa dan memadu kasih, melepas rasa rindu hati yang sedang berbunga. Tidak setiap hari mereka bisa punya kesempatan untuk saling jumpa agar tidak memancing perhatian atau ketahuan para tetangga.

Karena sama-sama saling cinta dan serius, si gadis sebenarnya sudah pasrah mau diapain juga, karena memandang di fulan bener-bener serius. Bahkan lebih mudah jalannya mereka nikah dengan cara si gadis hamil, maka mau tidak mau si ortu pasti menyetujui pernikahan mereka daripada malu.

Namun prinsip si fulan ini cukup unik. Boleh saja dia suka mengumbar nafsu ke gadis-gadis mainannya, tapi untuk gadis yang bener-bener dia cintai, pacarnya, dia nggak mau memenuhi hawa nafsu, dia harus sah jadi istrinya dulu, otomatis harus sesuai restu pihak si gadis.

Cerita backstreet tersebut berakhir saat si gadis ketahuan oleh tetangganya masih ketemu sama si fulan. Si gadis dihukum tidak boleh keluar rumah tanpa ijin, sekolah antar jemput, hape di rampas agar tidak bisa berkomunikasi. Sampai pada suatu hari ada sebuah celah kedua orang ini ketemu untuk membicarakan jalinan asmara mereka. Si gadis menangis sejadi-jadinya ingin ikut si fulan kemanapun dia pergi. Di titik inilah kesadaran di fulan muncul, yang dia hadapi adalah seorang gadis sma yang sedang jatuh cinta dan pertimbangannya belum matang. Masih mengutamakan emosi dan perasaan pribadi.

Bisa saja dia membawa si gadis ini pergi untuk dinikahi, toh alasannya baik, serius untuk menjadikannya istri sah secara agama dan hukum. Namun bagaimanapun restu orang tua adalah penting. Si fulan bilang ke si gadis kalau dia akan terus mengusahakan restu si ortu, namun dia menggeleng, ortunya bilang sampai kapanpun tidak akan ngasih restu. Kalau sampai berani menginjak rumahnya, maka tak segan-segan akan dibunuh.

Setelah dengan pertimbangan matang, si fulan meminta si gadis untuk pulang. Soal bagaimana mereka akan melanjutkan hubungan nanti akan dipikirkan lagi. Dalam hati si fulan, dia tidak tega memisahkannya dari kedua ortunya. Apalagi sebelum kasus ini, si gadis sangat dekat sama mamanya. Bagaimanapun dia adalah gadis belasan tahun yang masih butuh kedekatan sama ortunya. Secara psikologis, beban problem percintaan mereka terlalu berat untuk gadis umur 17 tahun.Si fulan mengalahkan egonya untuk berhubungan dengan si gadis. Si fulan mengatakan hubungan ditunda dulu, sampai lulus sekolah, nanti dimulai lagi, siapa tahu keputusan ortunya berubah.

Dia berpesan pada si gadis untuk fokus sekolah dan memperbaiki hubungannya ke ortu. Si gadis dengan berat hati menyetujui, dan memang karena percaya si fulan tidak akan pindah ke lain hati. Dan terbukti, walaupun untuk sementara waktu tidak berhubungan, namun si fulan konsisten, dia lebih memilih menjomblo menunggu si gadis dambaan hatinya lulus sekolah, baru akan menjalin hubungan lagi.

Seiring sejalan waktu, si gadis menjalin hubungan baik lagi ke ortunya. Sekolahnya juga berprestasi, sehingga ortunya percaya kalau dia memang sudah menghentikan hubungannya denga si fulan. Hapenya dikembalikan, tapi aturan keluar rumah dan antar jemput sekolah tetap berlaku. Dengan adanya hape, secara sembunyi-sembunyi, mereka saling komunikasi walaupun tidak sampai berjumpa fisik. Dari komunikasi itulah si fulan tahu, sekarang hubungan si gadis dengan ortunya membaik. Hidup si gadis cukup bahagia bersama ortunya, sekolahnya juga berprestasi. Yang belum terpenuhi adalah menjalin hubungan lagi dengan si fulan.

Dalam periode inilah si fulan selalu memperhatikan kebahagiaan si gadis dalam keluarganya. Sangat bahagia, tidak lagi membawa beban hubungan yang tak direstui. Ketika dia bertanya ke si gadis bagaimana perasaan ortu si gadis ke si fulan, si gadis selalu menjawab dengan sedih, ortunya masih seperti dulu soal hubungan dengan si fulan.

Di titik itulah si fulan memutuskan untuk mengurangi komunikasinya ke sigadis, saat ditelfon sering tidak diangkat, di sms jarang balas. Dia mengurangi intensitas komunikasi, dengan alasan semakin sibuk dengan pekerjaannya. Si fulan tetap menjomblo, dan selalu mengatakannya ke si gadis saat ada kesempatan. Hal ini dilakukan agar si gadis lebih banyak berhubungan ke ortunya. Si fulan bener-bener tidak tega memisahkan si gadis dengan ortunya, khususnya mamanya.

Namun cara itu tidak berhasil, dari percakapannya, si fulan tahu cinta si gadis tetaplah sama. Padahal dari info teman-teman si fulan, ortu gadis tersebut sampai saat itu tetap tidak setuju anaknya berpacaran dengan si fulan. Dengan sangat berat hati, si fulan lebih memilih mengorbankan perasaan hatinya, lebih memilih si gadis bahagia dengan ortu, keluarganya. Saat deka tanya apakah benar-benar mencintainya? Si fulan bilang nggak cuma dalam hati, tapi sampai “into the bones ” cintanya sampai ke dalam sumsum tulangnya…. Weh serem.

Dia ingin menghentikan harapan si gadis padanya, namun jika diutarakan langsung maka akan berefek fatal ke si gadis. Maka si fulan memilih tidak berhubungan lagi dengan si gadis melalui hape. Sampai pada masanya dimana si gadis lulus sekolah, dan si fulan berkomunikasi lagi, melampiaskan rasa rindu tak jumpa selama 1 tahun. Kebetulan sekarang lebih mudah untuk ketemu dengan si gadis karena dianggap sudah putus. Saat perjumpaan itulah si fulan menanyakan lagi sikap ortunya, dan dijawab dengan ekspresi sedih dan gelengan kepala.

Kemudian saat ditanya bagaimana kondisi keluarga si gadis, hubungan dengan ortunya? Si gadis menjawab semua terasa menyenangkan, dia menginginkan kondisi ideal dimana hubungan kekuarga baik tapi hubungan dengan si fulan juga baik. Si fulan langsung paham dengan kondisi tersebut. Dia dalam hati memutuskan untuk meninggalkan si gadis agar bahagia bersama orang tuanya, walaupun hati si fulan hancur lebur. Tapi memutuskan secara langsung jelas tidak mungkin melihat tatapan teduh penuh cinta si gadis.

Si fulan membatasi  komunikasi dan perjumpaan agar perasaan si gadis berkurang seiring perjalanan waktu. Dan ternyata perasaan si gadis tidak bisa hilang, si fulan sudah bulat untuk memilih pacarnya bahagia dengan ortunya, daripada dia nikahi. Si fulan memutuskan untuk menikah dengan gadis lain untuk menyelesaikan hubungan tersebut. Biarlah dia dicap penghianat oleh si gadis, tapi si gadis tidak lepas dari hubungan baiknya dengan ortu dan keluarga.

Benar juga, si fulan menikah dengan gadis lain secara cepat tidak melalui proses pacaran. Kemudian dia memberitahukan ke si gadis tentang pernikahannya. Sudah ditebak reaksi si gadis, hancur berkeping-keping, sampai terucap mau bunuh diri…. Namun hubungan baik dengan ortunya lah yang menyelamatkan kejadian tersebut. Dengan senyum getir si fulan mengatakan hubungan si gadis dengan ortu lebih penting daripada dengan dirinya. Perjalanan si gadis masih panjang, apalagi prestasi akademisnya luar biasa. Si fulan tidak mau mengorbankan semuanya demi ambisinya untuk menikahi si gadis pujaan hati.

Saat deka tanya memang sekuat apa cintanya? Si fulan bilang,bahkan sampai saat ini, dia punya anak istri, perasaannya masih sama persis. Si fulan masih cinta sama si gadis. Tapi si fulan melanjutkan, hati saya masih cinta, tapi pengejawantahan dari rasa cintanya yang beda.

Menurut si fulan, melihat, membiarkan si gadis lebih berprestasi, mencapai cita-citanya, berhubungan baik dengan ortunya, bahagia bersama keluarganya adalah tanda pembuktian cinta si fulan pada si gadis. Kemudian jika kelak melihat si gadis hidup bahagia bersama pasangannya nanti, itu juga implikasi dari rasa cintanya. Dan si fulan tidak akan mengganggu apa yang terjadi dalam hidup si gadis, si fulan hanya melihat dari jauh, dan memastikan hidupnya bahagia. Itulah yang disebut cinta tidak harus memiliki. Si fulan juga hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.

Deka jadi ingat lirik lagu megadeth dalam bahasa prancis yang berarti : Sayang….aku sangat mencintaimu…..tapi aku harus pergi…

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*