Memahami Aturan Berkendara : Mencegah Lebih Baik Daripada Bereaksi

spesifikasi gd250n

Yola dulur yang budiman…. membaca kasus kecelakaan antara R-25 dan mobil ayla siang ini, deka mendapatkan sedikit gambaran tipikal berkendara kita-kita ini saat di jalan raya. Deka nggak akan mengulik, memancing perseteruan fans antar merk, biker vs driver, benar atau salah, atau sudut pandang lainnya. Ini murni unsur safety dalam berkendara.

pertigaan bunut
pertigaan bunut

Kita ini seringnya melegalkan berkendara hanya berupa sekeping kartu kecil yang disebut SIM, Surat ijin mengemudi. Setelah mempunyai sim, kita menggunakan kendaraan kita sesuai keinginan kita. Selama kita dianggap sudah mampu mengendarai kendaraan kita, maka kita dianggap pengendara yang “benar”.

Padahal berkandara di jalan raya dengan mengendarai kendaraan itu berbeda konteks dan artinya. Untuk ukuran sekarang, anak SD saja sudah mampu mengendari motor metik, bahkan skillnya ada yang lebih jago anak smp yang nggak punya sim dibandingkan deka misalnya.  Tapi itu hanya bicara kemampuan berkendara…. berbeda jauh dengan berkendara di jalan raya.

Berkendara di jalan raya itu jauh lebih kompleks. Faktor skill hanya sebagian dari unsur berkendara di jalan. Masih ada faktor lain seperti aturan berkendara, tatacara berkendara di jalan, kondisi jalan, dan faktor unpredictable ” WISHDOM” atau bahasa deka “INI”. Jadi kompleks sekali berkendara di jalan itu. Hal in disebabkan karena kegiatan berkendara melibatkan puluhan, ratusan, ribuan orang lain… nggak cuma kita.

kecelakaan di pertigaan
kecelakaan di pertigaan

Pondasi berkendara pertama jelas skill, kemudian syarat ( sim ), mengikuti aturan berkendara, dan yang terakhir wishdom, atau kebijakan kita saat menghadapi kondisi tertentu. Semua adalah satu paket bagi kita untuk melakukan kegiatan berkendara. Bicara aturan berkendara, hal ini dibuat oleh aparat atau instansi agar saat kita berkendara selamat, jadi untuk melakukan pencegahan, daripada kita bereaksi yang mengandalkan skill dan pengalaman.

Ya… aturan itu dibuat tidak memandang pengalaman, atau pemula, skill expert atau cukup. Aturan tidak memandang tingkatan itu, semua harus tunduk oleh aturan. Aturan dibuat untuk mencegah daripada mengandalkan reaksi kita. Contohnya : marka tidak putus……. kita diwajibkan tidak melewati marka dalam kondisi apapun, jika melewati, jelas salah…. apapun kondisinya. Marka tidak putuss dibuat karena “dalam kondisi tertentu” menyalip kendaraan di depannya dianggap berbahaya.

Begitu juga saat marka putus-putus. Marka putus bukan berarti kita diwajibkan menyalip. Tapi boleh menyalip dengan syarat… syarat apa? yaitu aturan menyalip kendaraan yang benar. Itulah fungsi aturan berkendara yang harus kita jalani di jalan. Semua demi keselamatan entah berskill ecek-ecek atau skill dewa. Aturan bersifat defensive, dan minim resiko.

isi kepala

Apakah taat aturan berkendara menjamin keselamatan kita ? Tentu tidak…. taat aturan hanya mengurangi kemungkinan kecelakaan, jadi kemungkinan masih ada. Masih ada faktor lain yang berperan…. wishdom, “ini”, atau kebijaksanaan kita berperan utama di saat kita berkendara. Kenapa ? Dijalan banyak karakter, banyak tingkatan skill berkendara, sama isi kepala….

Di suatu saat kita aka, dan menemui posisi kita benar secara aturan, tapi demi keselamatan, kita diharuskan mengalah. Kita mencari selamat dulu…. bukan mencari siapa benar siapa salah… apalagi sama kaum idiot, bahkan bloody idiot. Tapi jika sudah terjadi kecelakaan, dimata aparat adalah siapa yang benar dan siapa yang melanggar aturan.

So… berkendara di jalan itu kompleks…. nggak cuma mampu mengendari……

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

 

14 Comments

  1. iya pengendara motor sekarang gila, kenceng kenceng banget, ditengah mulu, maunya nyalip mulu, kalo bawa mobil jadi ngeri kaya dirubung nyamuk, makanya roxyku kuberi tanduk yang besar, bahaya sih tapi biar mereka agak keder…

  2. Sebagai rider sekaligus driver terus terang saya agak sulit merubah karakter berkendara menjadi defensive, hampir setiap hari bawaannya offensive terus… Mudah2an ke depan bisa lebih baik lagi dan menjadi rider/driver yang lebih bertanggung jawab, menjaga keselamatan diri itu penting, tapi jauh lebih penting juga menjaga keselamatan orang lain sesama pengguna jalan.

  3. Ketika kita menjadi rider sekaligus driver maka akan lebih memahami dari kedua sisi gimana rasanya reaksi motor ke mobil dan mobil ke motor…. Ujung2nya harus saling menghargai sesama pengguna jalan

  4. Lek lha nek enek penunggang motor senengane mangani dalane wong liyo didugang wae kudune rapopo ya lek? Kiro2 nek tak lakoni tenan aku disalahne pak polisi ora yo? Soale pengen dugang wong ra aturan ngono kui.

      • Nah nek saumpomo ki kang, ora sah didugang tapi mung sengojo senggol sithik wae,lak yo wis tibo,nah pisan2 kudu dicobo kui kang gen ora sak senenge dewe,secara hukum juga tidak menyalahi,wong namanya senggolan,salahe sopo jatah dalane wong liyo dipangan,aihihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*