Saat Kesusahan Mendera, Kenapa Menolak Kesenangan Yang Datang?

(ilustrasi kesadaran universal)
(ilustrasi kesadaran universal)
(ilustrasi kesadaran universal)

Yola dulur, mari merenung barang sejenak tentang kehidupan yang akan terus kita jalani ini. Dalam menjalani kehidupan ini tentu tidak hanya kesenangan yang akan kita jumpai, namun juga perasaan sedih, susah, bahagia, senang, bangga, kecewa, malu dan sebagainya. Ini semua karena hati kita sudah dibekali semua perasaan yang terlihat ambivalen atau bertentangan ini sebagai bagian paket dari penciptaan kita sebagai makhluk Tuhan.

Ya….Tuhan menciptakan kita ini selain hardware, juga software berupa program bernama sifat-sifat diatas. Sifat yang saling bertentangan, ambigu, itu adalah sebuah paket lengkap, yang satu bikin bahagia, yang satunya bikin tersiksa. Ada senang,ada sedih, ada suka ada benci, ada bangga, ada kecewa, ada rasa pede, ada rasa malu dan sebagainya. Menurut para motivator, sebaiknya kita memilih yang positif-positif saja, yang enak-enak saja biar hidup kita terasa indah dan bahagia.

Namun pada prakteknya……hmmmmmmm…. perlu pembiasaan yang sangat lama untuk menekan rasa-rasa yang negatif tersebut. Let me tell you a little secret…. jika kita menekan rasa-rasa yang negatif tersebut sebenarnya  rasa tersebut tidak akan hilang,namun terpendam di dalam hati. Jika kita sudah merasa tidak bisa menahan lagi, maka efeknya akan terjadi ledakan yang maha dahsyat sebagai kulminasi tumpukan rasa negatif yang sangat banyak yang kita tekan dalam hati. Gampangnya seperti sebuah per yang ditekan sampai kecil, begitu penekannya hilang atau lepas, maka terjadi momentum yang sangat besar ke arah sebaliknya.

Begitu juga yang dialami oleh si Fulan, berbulan-bulan menahan kecewa karena kegagalan-kegagalan yang dia jumpai. Padahal si fulan ingin keberhasilan-keberhasilan, pada awalnya masih nampak tabah. namun bulan berganti bulan ketabahan itu akhirnya ketabahan itu jebol juga, perasaan kecewa yang selama ini tidak nampak dipermukaan meledak semua….. ujungnya terjadi turbulensi jiwa….depresi. Hidup menjadi abu-abu kusam, bukan penuh warna warni keindahan. Kesedihan dan kekecewaan itu akan mengundang rasa malu dan rasa minder, yang membuat si fulan mengurung dari kehidupan sekitar. Kehidupan yang akan selalu memberikan kesenangan seperti tidak nampak, kalaupun terasa kedatangannya, si fulan seperti menolaknya…..karena asyik dengan perasaan sedih, kecewadan rasa malunya. Si fulan menyia-nyiakan kesenangan yang hadir untuk mengobati perasaan-perasaan negatif yang dia alami.

Padahal ada cara sederhana yang di ajarkan dalam agama (disini penulis maksud adalah Islam) untuk mengatasi perasaan negatif tersebut. Cara tersebut adalah sangat umum, bahkan sangat sering kita dengar……yaitu PASRAH….atau kalau bahasa agamanya IKHLAS. Ya…. menerima kenyataan bahwa diri ini telah gagal, belum berhasil. memang keinginan si fulan adalah berhasil, namun kenyataan yang ditemui adalah gagal, mau dilawan, dibantah kayak apapun ya tap tidak mengubah kenyataan itu. Jadi satu-satunya jalan ya mengakui kegagalan itu sendiri. Mengaku kalau si fulan telah gagal,keberhasilan belum tercapai.

Dan ternyata efeknya cukup mencengangkan, perasaan menjadi tenang, legowo, bisa merasakan kesengan, keindahan, kebahagiaan yang ditemui. Soal permasalahan kedepan, gimana nanti, pasti akan selesai dengan sendirinya karena pasti akan ada jalan yang diberikan……oleh Tuhan. Ya.. karena kita manusia yang berTuhan, yang memposisikan Tuhan sebagai dalang kehidupan kita. Kita hanya menjadi wayang yang menjalani sebuah rangkaian cerita di dunia ini. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah memohon, doa, dan menjalani ikhtiar tersebut. Soal hasil adalah Kuasa Tuhan Yang Maha Hidup……. Duh Gusti…….selalu hadirkan Rasa Dekat hamba KepadaMu….hanya Engkaulah Penolong hidup Ini…. Berilah Jalan Yang Benar, Penuh ketenangan….Ihdinal shirotol mustakim…….doa si Fulan….

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

2 Comments

  1. Artikel yg bersifat umum, tapi trasa pribadi karena saya pernah mgalami nya, karena sesuatu hal , saya down berbulan2, malu, marah , benci, purus asa, bahkan butuh waktu bertahun2 untuk mngmbalikan kpercayaan diri yg sudah runtuh, tapi sekali lagi, tak ada luka yang abadi, waktu akan mengobati smuanya, luka akan mengering sendirinya, meski tak pasti cepat atau lambat,

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*