Hanya Si Fulan Yang Menungguinya Lahiran…. Bukan Suaminya

suzuki

Yola dulur yang budiman…sudah lama banget ya, nggak bikin artikel jejak kehidupan. Tulisan tentang penggalan hidup seseorang yang dengan sepengetahuan fulan-fulan ngadimin ketik untuk diambil hikmahnya. Kali ini cerita tentang pahit getirnya percintaan si fulan dengan perempuan yang dicintainya, namun hanya bertepuk sebelah tangan. Namun hebatnya sang laki-laki masih tetap bisa memancarkan kebaikan dan ketulusannya.

Sore itu, si fulan mengarah ke sebuah rumah di sebuah kota di daerah priangan timur jawa barat. Dengan mobil avanza warna hitamnya, menyusuri keramaian jalan yang hanya cukup untuk 2 kendaraan berpapasan dengan hati-hati. Sudah cukup lama dia tidak menginjakkan kakinya lagi kota itu. Sebuah kota dengan 1001 cerita pahit getir percintaannya. Setelah sekian tahun meninggalkan kota itu, ada sebersit rasa rindu untuk bertemu dengan seorang perempuan tua yang dulunya dianggap induk semang saat tinggal di kota itu.

Ke rumah itu, berarti si fulan juga akan bertemu dengan seorang gadis cantik nan centil. Seorang gadis berkulit putih dengan kegenitan luar biasa, yang berhasil merobohkan kekerasan hati seorang fulan dan bertekuk lutut mengakui kemolekan gadis tersebut. Sebut saja dia Joan. Sayangnya sosok si fulan bukanlah tipikal kesukaan Joan. Jadilah si fulan hanya menjadi ATM berjalan dan transporter demi memperoleh perhatian sang bidadari hatinya. Sampai pada momen dimana si fulan hatinya luluh lantak dan meninggalkan kota itu sambil membawa sebagian potongan cinta yang tersisa di hatinya.

Mobil avanza hitam sampai pada rumah besar warna kekuningan dan dengan parkiran yang cukup untuk 4 mobil. Rumah besar itu nampak sepi. Sebenarnya si fulan datang tanpa memberitahukan ke mantan induk semangnya, dia ingin memberikan kejutan. Pintu rumah terbuka setengah, dan si fulan mengucapkan salam berkali-kali. Karena ada ikatan bahwa ini adalah rumah tinggalnya dulu, si fulan mengucap salam sambil nyelonong masuk rumah.

Sampailah ke ruang tengah keluarga. Fulan mengucap salam sambil melihat ke lorong sebelah kanan, dimana di situ ada ruang keluarga lainnya di depan kamar-kamar yang berjajar hadap-hadapan. Di posisi dia sekarang, dan arah mata tertuju ke sebuah pintu kamar yang sama adalah momen dimana si fulan dulu meledak hatnya, bertekad meninggalkan rumah dan kota itu. Tatapan mata yang sama, terarah ke sebuah pintu kamar seberang ruang. Dulu dia melihat seorang laki-laki berbadan tegap dan berambut cepak keluar dari pintu itu. Mukanya penuh peluh, dengan baju yang kurang rapih.

Seperti disambar ratusan ribu volt petir dada si fulan kala itu melihat seorang laki-laki keluar dari kamar bidadari idaman hatinya.  Setelah itu sang bidadari keluar dengan kaos oblong, celana hotpants, dengan rambut kusut dan penuh peluh. Si fulan masuk ke kamarnya, merebahkan diri ke springbed dengan mata nanar menatap langit-langit rumah. Tidak ada tetesan air mata…. hanya rasa panas menyengat di dalam hatinya. Setelah itu dia tekadkan untuk pindah dari rumah dan kota itu.

Kini, si fulan ada di posisi yang sama dengan kala itu. Dan dia melihat seorang perempuan yang sama dengan kala itu, hanya saja raut mukanya tidak segenit dulu, kini nampak kuyu tanpa sentuhan makeup. Dan yang paling berbeda, saat ini sang bidadari memakai sebuah daster dan perutnya membesar. Ya… sang bidadari sudah menjadi surga yang sahnya laki-laki yang keluar dari kamarnya waktu itu. Si fulan juga tahu kabarnya.

” Eh si eneng…. ibuk ada?” kata si fulan memecah kekakuan…. ” Duh…. mas Eka….. kemana saja, kok ngga ada kabar bertahun-tahun, sekarang dimana? sehat kan? balas Joan. ” Tumben ke sini? ada apa gerangan? kangen sama joan ya? Ayo duduk dulu.” lanjutnya. Si fulan hanya terkekeh dan tersipu, mereka duduk di sofa ruang tengah keluarga. Kemudian Fulan membalas, ” enggak, mampir saja mumpung libur panjang, jadi jalan-jalan luar kota lah, sekalian ingin nengok ibuk….. tapi ibuk kemana ya?”

” Ibuk tadi kondangan ke daerah Ciamis, anaknya temen ada yang nikah….katanya sih nggak sampai meghrib juga sudah pulang. Tungguin saja mas Eka, barangkali sebentar lagi pulang. Si fulan merasa tidak enak, bercampur dengan rasa kikuk. Bagaimanapun didepannya adalah seorang perempuan yang berhasil meluluhkan hatinya, walaupun bertepuk sebelah tangan dan meninggalkan rasa sesak di dada, namun sisa-sisa rasa itu masih tersimpan dalam hati fulan. Sambil tolah-toleh si fulan berkata, ” mana suami kamu Joan? jadi nggak enak nih jika berdua…”. Mendengar pertanyaan itu, raut muka joan menjadi datar, kemudian wajahnya tertunduk sesaat. Kemudian dia senyum dan menjawab,” Aa sedang tugas luar kota mas….”. “Ooooh….. sudah berapa bulan kandunganmu joan? sepertinya sudah cukup besar?”. Joan menjawab,” Ini jalan 9 bulan… “. Dalam hati si fulan berkata, sudah hampir saatnya melahirkan, kasihan suaminya tidak ada……

Kemudian mereka ngobrol ngalor-ngidul mengisi waktu menunggu si ibuk yang merupakan Bibi si Joan. Obrolan cukup mengalir karena si fulan bisa menahan perasaan hatinya, bisa mengontrol pergolakan hatinya agar tidak muncul ke permukaan. Sampai pada saat dimana Joan tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. ” Ada apa Joan? apanya yang sakit?” tanya fulan dengan sedikit kekhawatiran. ” Perut saya mulas mas, ada kontraksi dari dari dalam…. apakah dede nya mau keluar ya?” kata joan sambil meringis menahan rasa sakit.

Tanpa ba…bi…bu…. Fulan langsung menawarkan untuk membawa joan ke rumah sakit bersalin dimana Joan rutin memeriksa kandungannya. Tanpa pikir panjang, Joan mengangguk dan Fulan memapah Joan masuk ke mobilnya.  Setelah menutup pintu gerbang rumah, mobil melaju ke sebuah Rumah sakit…. sebut saja RS Kartini. Begitu sampai ke pelataran, mobil langsung parkir di depan ruang UGD. Kemudian para perawat dengan sigap membawa Joan dengan sliding bed. setelah parkir Fulan langsung menuju ke ruang resepsionist…. Seperti biasa, menyelesaikan administrasi sebelum pasien dirawat adalah hal yang lumrah kala itu.

Sesuai dengan aturan rumah sakit, maka si Fulan harus meninggalkan uang deposit dengan angka 0 6 digit, agar Joan langsung ditangani. Setelah menyelesaikan administrasi, si fulan diminta ke ruang penanganan pasien. Oleh dokter dia diminta menemani Joan yang sedang dalam proses melahirkan. ” Kehadiran suami di sisi istri yang melahirkan itu sangat penting” kata dokter, ” Keberadaan suami bisa mengurangi beban psikologi ibu melahirkan, karena justru rasa takutlah yang membuat tekanan mental saat melahirkan begitu besar.” Si fulan hanya mengangguk di sisi sebelah kanan kepala joan. Si fulan hanya banyak diam sambil mentap ke arah kepala Joan. Dalam hatinya berkata, ” Momen seperti ini sempat aku bayangkan dulu saat aku mengharapkan cintamu, aku akan mendampingimu saat melahirkan anak-anak kita. Khayalan itu kini menjadi kenyataan, bedanya, kamu bukanlah istriku, dan yang akan kamu lahirkan bukanlah anakku.”

Tak terasa waktu menunjukkan jam 9 malam, Joan berhasil melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat. Si Fulan yang duduk di samping Joan mendapatkan selamat dari dokter dan para suster yang membantu proses melahirkan…. ” Selamat pak…… putri bapak cantik….sehat… semua normal… selamat sudah jadi bapak” ucap mereka. Si Fulan hanya tersenyum kemudian memandang muka Joan yang nampak kecapekan. Ekspresi muka joan juga cukup datar, dengan senyuman yang seperti dipaksakan.

Setelah paramedik keluar, Joan memandang si fulan, dan si fulan memandang Joan. Ada aliran air dari pojok matanya, ” Maafkan perlakuanku dulu mas…. dulu aku lebih memilih dia daripada mas… kini saat aku melahirkan, justru mas yang berada di sisiku, suamiku sendiri entah sedang dimana….” kata Joan. ” Lho bukannya dia sedang tugas luar kota? ” Tanya fulan terheran-heran…. Joan menggelengkan kepala dan menunduk dengan posisi tidurnya, air matanya makin deras…. ” Maafkan Joan ya mas….. Maafkan Joan……” kini isakannya makin terdengar.

Si fulan beranjak dari duduknya, kemudian mendekati Joan, meraih tangannya, dan menggengamnya, ” Sudah Joan… Sudah…. tidak perlu ada yang dimaafkan…… semua adalah suratan takdir kehidupan yang kita alami. Kita sudah diberi pilihan dan berani mengambil pilihan bagi kita. Aku sendiri tidak berhak memaafkan kamu, karena aku merasa kamu tidak bersalah padaku… Itu semua pilihanmu, aku tidak bisa memaksakan kehendakku kala itu…..” Si fulan memandang ke mata Joan dengan senyum…. Sebenarnya di dalam hatinya ada Ego yang bilang : Apa guhe bilang, dia laki-laki brengsek, sekarang terbukti kan? Namun perasaan dan pikiran itu dia buang dan dia sembunyikan.

” Oh iya…. mana hapemu, ibuk dikasih tahu kalau kamu sekarang melahirkan di Kartini. Ibuk pasti cemas dan bingung karena sampai semalam ini kamu tidak ada di rumah, dan meningkalkan rumah dalam keadaan kosong. ” Hapeku ada di tas itu mas, tolong ambilkan…. Setelah hape diambil dan Joan menelphone bibinya untuk datang ke rumah sakit, Si fulan bilang ke Joan ijin keluar rumah sakit untuk merokok. Si fulan keluar dari ruang pasien dengan langkah ringan, entah kenapa beban hatinya menjadi berkurang, perasaan cinta dan sakit hati kepada Joan hilang, berubah menjadi aliran penuh kehangatan…. Ah…….. aku sudah bisa memaafkan kejadian itu…. aku bisa menerima takdir bahwa Joan bukanlah takdirku….. Aku kini menjadi manusia baru lagi…….

Si fulan keluar bukan untuk merokok, namun menuju ke mobilnya, dan keluar dari area rumah sakit, berkendara pulang ke kota tempat tinggalnya. Sambil merokok di mobil dia baru ingat bahwa dia meninggalkan deposit uang 6 digit di rumah sakit tadi…. ” Ah…. biarlah…… itu harga yang sepadan dengan perasaanku sekarang….. aku sudah bisa memaafkan dan menerima takdirku……” batin si fulan sambil menikmati Dunhill di atas avanza hitam yang melaju.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

gulf oil

2 Komentar

Silahkan Beropini