Suzuki Itu Dinaiki Dulu Baru Beli, Nyemplung Sumur Baru Ke Bengkel Resmi

suzuki

Yola dulur yang budiman… Saat ada kesempatan diskusi, ngobrol enteng-entengan bersama petinggi SIS bagi ngadimin adalah momen menyenangkan dan saatnya menggali informasi. Jika kita jeli, dari statment tersirat saja banyak informasi yang didapat, jika sebelumnya punya printilan informasi. Bicara motor suzuki itu menurut mereka, dinaiki dulu, publik baru beli. Untuk soal durabilitas, secara guyon dibilang, motor kecemplung sumur dulu baru punya niatan ke bengkel resmi.

Stament diatas memang seperti mengamini opini ngadimin yang interaksi langsung dengan publik motor, dan sedikit paham dengan pandangan mereka tentang motor suzuki. Ini bisa dibaca sebagai plus minus motor suzuki.

Dari sudut pandang plus, publik awam menentukan beli motor suzuki setelah menaikinya dulu, atau uji coba, testride. Ini berarti motor suzuki itu punya kelebihan, keunggulan di sisi riding. Punya karakter menyenangkan saat kita mengendarainya. Ini tidak bisa dilihat hanya dengan membaca, melihat foto motor, mendengar katanya-katanya. Naiki, jajal di jalan, coba langsung……

Kasus nyata ya ngadimin alami sendiri. Si ibuk negara itu dari lahir ceprot, jika punya motor ya honda. Tidak kenal dengan motor suzuki. Saat paripurna dengan honda beatnya, ngadimin saat itu mengajaknya ke diler suzuki untuk servis, kebetulan ada address nganggur, iseng-iseng dia coba….dan akhirnya….minta dibeliin…enak banget katanya…. :mrgreen: .

Nah…dari sisi minus, ini berarti pihak suzuki punya PR besar….motor suzuki tidak dikenal, belum dipercaya oleh publik awam. Mereka baru percaya setelah jajal langsung. Segala macam endorse media belum efektif untuk mempengaruhi mindset publik….bahkan ketika publik awam diberi realitas nyata, ada yang masih belum yakin….takut dengan aftersales. Berbeda dengan merk sebelah yang baru katanya saja, sudah diamini oleh publik. PR besar yang harus dicicil dan efektif.

Soal guyonan pak Aris Indra tentang motor kecemplung sumur baru punya niatan memperbaikinya ke bengkel resmi itu mewakili karakter pemilik motor suzuki. Ngadimin sendiri seperti itu. Hampir semua motor suzuki ngadimin ogah-ogahan mampir ke bengkel resmi. Pertama karena tidak ada masalah di mesin, yang kedua, dioprek dikit, servis sendiri atau ke bengkel umum juga motornya waras. Di motor suzuki yang pernah ngadimin alami, punya toleransi terhadap kerusakan cukup tinggi. Dimana yang lain sudah mempengaruhi kinerja, di motor suzuki baru mengganggu saja, motor masih bisa jalan normal.

Kasus ini menjadi buah simalakama, karena bagaimanapun salah satu penyokong hidupnya diler adalah aktivitas bengkel resmi. Kalau pemilik motor suzuki ogah mampir ke beres, ya asupan vitamin buat diler berkurang. SIS harus merombak total sistem diler mereka, termasuk bengkel resminya agar pemilik motor suzuki tertarik untuk mampir. Harus ada yang menarik ditawarkan oleh bengkel resmi….tanpa menurunkan kualitas motornya agar sering mampir ke beres…. Ada caranya? ADA……. Apa? WANI PIRO????? :mrgreen:

Jadi….cicillah SIS…..cicillah…cicillah problem solvernya mulai sekarang…..

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

 

gulf oil

4 Komentar

  1. Harus ada yang menarik ditawarkan oleh bengkel resmi….tanpa menurunkan kualitas motornya agar sering mampir ke beres…. Ada caranya? ADA……. Apa? WANI PIRO?????

    jangan bilang dengan cara ganti seluruh mekaniknya dengan mekanik cewe bahenol!!

Silahkan Beropini