Riding Arus Balik, Hikmah Yang Di Dapat

suzuki

Yola dulur yang budiman….setelah lama absen nulis, kini ada waktu buat sedikit coret-coret ide. Kali ini cerita tentang hikmah riding saat puncak arus balik lebaran 2017.

Awalnya ngadimin balik ke bogor mau menggunakan jasa transportasi umum dari cirebon. Namun ada rasa penasaran, ingin merasakan apa yang dialami oleh para mudiker yang balik ke arah jakarta. Entah apa sebabnya, ingin sekali merasakan mudik atau balik bersama-sama mereka.

Akhirnya diputuskan menggunakan Gipsy Danger, gsxr150 putih biru milik ngadimin. Start  hari minggu jam 11.30  waktu bagian cirebon. Firasat perjalanan akan berat sudah nampak saat start dari rumah. Melihat arus jalanan cirebon padat, diputuskan lewat jalur desa dari waruroyom tembus ke palimanan. Eh ternyata di warujaya ada hajatan ngalangin jalan, akhirnya lewat jalan kebon daripada balik 😀 .

Perjalanan dari palimanan sampai ke cikampek termasuk santai menyenangkan. Selain teman seperjalanan banyak pakai banget, walaupun padat tapi masih bisa jalan santai 40-60 km/jam. Bahkan selepas sukamandi dapat spot bisa melaju 115 km/jam…tapi ya hanya sekali itu saja  :mrgreen: . Kebanyakan sih jalan santai 40-60 km/jam, lha gimana lagi? Jalanan penuh dengan motor. Apalagi saat masuk sebuah kota kecil seperti celeng, persimpangan arah indramayu, eretan, patrol dll, padat merayap hanya pakai gigi1-2, bahkan stag.

Istirahat pertama awalnya 2 jam dari start awal, namun karena puanass dan padat merayap, akhirnya nyerah di daerah eretan… Kondisi motor oke, tapi fisik rider udah kepanasan…. Rest  sambil rehidrasi. Kemudian istirahat kedua di daerahq menjelang cikampek, kembali fisik kegerahan karena padat merayap yang menghinggap. Memang dalam kondisi seperti ini, endurance lebih penting daripada speed.

Siksaan sangat terasa dimulai dari masuk ke simpang cikampek yang ada jalan layangnya ituh. Motor hanya bisa melaju under 15 km/jam, gigi 1, dan gigi 2 untuk overdrive agar rpn mesin turun. Dengan kondisi macet, stag, panas menyengat, terasa sekali siksaan naik motor fairing underyoke. Panas mesin menyembur ke paha, belum lagi tangan menahan kopling saat macet. Kondisi ini tidak berubah dari masuk cikampek sampek cikarang.

Bayangkan saja, mengendarai motor sport, nahan kopling di kecepatan under 15 km/jam dari masuk cikampek sampai cikarang!! Lebih dari 50 km berjalan merayap,  stag di banyak spot. Benar-benar sangat menyiksa fisik dan mesin motor. Makanya interval istirahat dipersingkat, selain kelelahan, dehidrasi dan ngga makan dari siang hari, tiap setengah jam mending rest alias istirahat barang 1 batang, 2 batang rokok.

Penyebab kemacetan besar di jalur tua pantura ini adalah karena bus, truk, mobil pribadi arah jakarta pada keluar dari tol cikampek. Mereka menganggap tol macet total, dan memilih jalan biasa. Padahal melalui GPS, deka lihat masih merujuk lewat jalan tol karena lebih cepat1-2 jam daripada jalan biasa. Sempat mengumpat kendaraab-kendaraan besar yang bikin jalan mampat. Tapi dipikir-pikir itu juga hak mereka menggunakan jalan umum. Jadi ya terima saja kondisi macet parah ini.

Dalam istirahat itulah ngadimin merenung. Begitu beratnya perjuangan para mudiker saat balik ke jakarta. Penuh peluh, menguras fisik, beresiko kecelakaan untuk kembali mencari penghidupan di ibu kota. Merasakan langsung kondisi mereka membuat empathy bagi para long rider meningkat. Sehingga bisa memaklumi, atau minimal mengumpat jika beberapa dari mereka sembrono saat di jalan. Lebih baik mengalah, yang penting selamat.

Dari jam 15.30 mulai masuk cikampek, baru pukul 22.00 sampai di cikarang. Setelah itu jalan relatif lancar, bisa memacu di kecepatan 60-80 km/jam. Sungguh pengalaman yang cukup berharga.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

gulf oil

6 Komentar

  1. Apa baru Ada 1 gsxr sticker TYCO di Indonesia ?? Kemarin hari minggu pas arus balik ketemu gsxr sprti punya njenengan, mau nyapa takut Bukan….

Silahkan Beropini