Perjalanan Mudik Seperti Lomba Endurance….Perhatikan Ritme Dan Stamina

suzuki

Yola dulur yang budiman….. perjalanan mudik paling nyaman itu adalah menggunakan moda transportasi umum, selain nyaman, ngga capek, tentunya mengurangi angka kemacetan. Namun jika memilih perjalanan mudik dengan kendaraan pribadi, apalagi motor perlu diperhatikan karakter ridingnya. Perjalanan mudik, kalok diibaratkan lomba, seperti lomba ketahanan atau endurance.

Melakukan mudik menggunakan motor bisa memenjadi hal yang menyenangkan. Apalagi kalok emang dasarnya berjiwa biker, pulang ke kampung halaman sekaligus berpetualang di atas kuda besi dan menikmati hembusan angin di sepanjang jalan. Apalagi dilakukan secara massal, bersama rekan-rekan.

Di jalan serasa banyak saudara senasib. Perdebatan antar merk di media sosial bisa hilang, berubah menjadi persaudaraan sejalan. Itu karena punya tujuan yang sama, sampai rumah masing-masing dengan selamat. Makanya di jalan seperti banyak saudara saja.

Yang perlu diperhatikan saat riding jauh adalah karakter ridingnya dulur sekalian. Ibarat balap motor, kita seperti sedang lomba endurance, ketahanan motor. Percuma paling kencang, tapi tidak selesai sampai waktu yang ditentukan. Percuma kenceng tapi tidak finish karena mesin jebol atau kecelakaan. Berbeda dengan riding dalam kota atau antar kota.

Riding jarak jauh lebih menekankan faktor durability atau ketahanan, baik fisik ataupun motornya sendiri. Perlu menjaga ritme kecepatan dan ritme fokus kondisi sekitarnya. Saat mudik kita menjadi satu dengan ratusan bahkan jutaan biker lain yang skill dan karakternya berbeda-beda. Perlu perhatian ekstra saat berkendara secara masal.

Kecepatan maksimal dimana kita masih bisa aware atau perhatian dengan sekitar adalah 60-80 km/jam. Di atas itu kita akan mengalami sindrom tunnel view, atau melihat dalam terowongan, perhatian hanya fokus lurus ke depan tanpa bisa perhatian kanan kiri sekitarnya. Sehingga jika ada faktor tak terduga, menjadi kurang antisipatif.

Dengan kecepatan tinggi juga akan menguras fisik karena konsentrasi tinggi. Apalagi sedang menjalani ibadah puasa, maka berkendaralah secara santai, menikmati perjalanan dan tahu ritme tubuh. Jika terasa akan capek mending istirahat dulu. Jarak tempuh, umumnya 40-60 km kita harus istirahat sebentar minimal untuk mengurangi stress karena konsentrasi, lakukan relaksasi serta bersantai sejenak, 5-10 menit.

Gaya riding pilih yang konstan, kalem, bukan agresif cari topspeed secepatnya, tapi ikuti kondisi jalan, lengang, aman gasspol, ramai ya kalem. Satu lagi tips : jangan ikuti gaya riding biker lokal. Kenapa? Karena mereka sudah paham betul kondisi jalanan di daerah mereka sendiri, jadi lebih antisipatif, berbeda dengan biker luar daerah yang kurang kenal medan, hanya bisa reaktif. Lagipula banyak biker bloodie idiot, karena ngga biasa macet, saat menghadapi macet, seenak udelnya sendiri…dan ini berbahaya buat biker lain. Ngga percaya? Amati saja sepanjang perjalanan anda.

So…keep safety, kalem, enjoy your riding. Percuma kenceng tapi ga sampai tujuan, percuma kenceng tapi setelah itu letoy dan perlu rehat lama. Mending konstan kalem, penuh perhatian….selamat sampai tujuan.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

8 Komentar

  1. mudik pake motor sebenarnya spekulatif, tetap lebih aman dengan roda empat dst. secara naluriah orang yang mudik pake motor adalah agar sampai di tempat tujuan lebih cepat (karena itu mereka cenderung ngebut), lebih hemat (karena g punya mobil pribadi misalnya), dan lebih praktis (bisa keliling di tkp dan g kecebak macet).

    mungkin ada sebagian yang sambil touring menikmati perjalanan, tapi relatif sedikit yang berpikir spt itu. belum lagi jika cuaca g mendukung, hujan atau panas menyengat, apa enaknya mudik spt ini (kecuali anda penyuka petualangan/tantangan), lebih enak pake kereta api kelas eksekutif atau pake pesawat terbang biar lebih cepat lagi sampai tkp…

    yang penting, jangan lupakan berdoa dan perhatikan rambu lalu lintas dengan baik….share bro, pis 🙂

    http://bukan-alaysurf.blogspot.co.id/2017/06/13-kesilapan-dalam-menyambut-bulan-ramadhan-dan-hari-raya-idul-fitri.html

Silahkan Beropini