Buat Motor Kobas, Sebenarnya Tidak Perlu Tergiur Dengan SAE Terkini

Yola dulur yang budiman….semakin kekinian, pabrikan oli telah mengeluarkan berbagai macam produk oli dengan sertifikasi lebih baru. Sebagian pengguna oli sesat atau sesaters memang dibuat galau, tergiur dengan oli baru tersebut. Padahal kalok boleh jujur, opini ngadimin justru sebaliknya, tidak perlu tergiur-giur amat.

Produsen oli mengeluarkan spek oli dengan sertifikasi baru sebenarnya untuk mengikuti perkembangan mesin-mesin terbaru dan terkini dari produsen otomotif, disini bicara produsen mobil dan mobil diesel. Jadi pemakaian oli itu sesuai dengan kebutuhan mesin bukan mesin menyesuaikan oli.

Mesin-mesin mobil terkini dibuat oleh produsennya komponen antar part dibuat lebih rapat, dan bertujuan lebih efisien, khususnya agar lolos aturan emisi EURO. Dengan mesin seperti itu membutuhkan oli mesin dengan spesifikasi global seperti API atau ACEA, atau sertifikasi lainnya yang lebih terbaru. Makanya muncul sertifikasi baru seperti SJ,SL,SM,SN dan seterusnya.

Bagaimana dengan mesin diesel? Ya idem…sama saja…. Apalagi dengan munculnya diesel comonrail plus turbo, sehingga sertifikasi api nya juga naik seperti dari CF,CH4,CI4,CJ4,CK4 dan seterusnya.

Sebagian publik berpikir semakin naiknya sertifikasi menganggapnya semakin bagus. Tak salah memang, jika kendaraan anda memang versi mesin terbaru dan membutuhkan spek seperti itu. Yang perlu diingat oleh para sesaters adalah kendaraan anda bukan mobil terkini, apalagi motor sistem kobas, aka kopling basah, kopling celup, kampas kopling kerendem oli mesin.

Pabrikan motor kobas apapun, silahkan cek masing-masing masih membutuhkan oli mesin dengan sertifikasi mentok api SL kebawah, bisa SJ, SG dan lain-lain. Masih belum ngadimin temukan motor kopling basah direkomendasikan oleh pabrikan memakai oli sertifikasi SM, atau SN. Apalagi dengan adanya sertifikasi Jaso MA.

Kalok dulur belajar atau sudah tahu syarat aturan Jaso MA, salah satu syaratnya adalah sertifikasi SL ke bawah. Jika api sm atau sn itu bukan yang energi conserving atau resource conserving. Ini berarti pilihan api sm dan sn sangat sedikit karena non EC atau RC. Kenapa? Karena sertifikasi SM atau SN sudah bermigrasi ke SN energy conserving agar memenuhi syarat euro 4 bahkan E5.

Kenapa oli motor kobas olinya tidak mengikuti kekinian seperti oli mobil? Karena mesin motor itu ya kek gitu dari dulu. Selama kopling masih kerendem oli gimana mau mengikuti kekinian mesin mobil yang oli mesinnya sudah terpisah dengan oli transmisi? Sedangkan semakin efisien mesin mobil membutuhkan oli lebih licin, friction modifier yang licin… Semakin tinggi sertifikasi api, makin licin.

Disitulah problemnya, makin licin , makin banyak FM, makin bahaya buat slip kopling motor kobas. Dan makin tinggi sertifikasi sebagian additive dikurangi agar polusi berkurang seperti kadar spash, zink, TBN de el el. Padahal di mesin motor kobas yang butuh spek SL masih membutuhkannya dengan kadar maksimal. Jika dikurangi kadarnya dikhawatirkan mengurangi masa pakai oli tersebut.

Apakah itu membuat motor kobas harom memakai oli sertifikasi sm atau sn ? Ya ngga juga, jika anda jeli dan pandai membaca spesifikasi oli bisa saja memakainya. Tapi percayalah, itu akan sulit untuk diikuti oleh publik awam. Di sini deka hanya bicara resiko yang lebih aman…. Selama sertifikasinya api SL atau CI4 kebawah, kesempatan aman buat kopling basah terbuka lebar dibandingkan api terbaru.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

12 Komentar

  1. Trus, gimana dengan New Shell Advance X7 API SM/MA2, Shell Advance Ultra PurePlus SN/MA2, Rotella T6 SN/CK4/MA2, sama Duron CJ4/SN/MA2?

    • Ngga harom lho ya…. Tp semakin kekinian, adpack akan smkin dikurangi agar polutan makin dikit…kalok mesinnya spek terkini no problemo…jk msh konvensional, bs beresiko umur oli lbh pendek….

  2. yg paling terasa menurut saya adalah ke enceran oli dan takarannya gan.

    oli di kopling basah makin encer makin enteng, tapi makin cepet kasar mesinnya dibanding spek kentel.
    lain lagi takaran saya isi dimotor sya kapasitas 1000ml padahal rekomendasi 800ml benar-benar menyiksa mesin ketika ditanjakan mesin terasa slip berlebih, sama halnya dengan kurang oli lebih dari setengah takaran.

    dan yg paling enak adalah takarannya pas, gak kurang gak lebih. malah kurang dikit 100ml itu mesin jadi enteng asalkan spek oli kentel. kalo oli encer malah sebaliknya. cmiww 😀

  3. Kalo saya masih pakai oli motor aja. Karena masih 2500 km br ganti, gak lama2. Sensasi berkendara pakai oli baru lebih nikmat (pengguna oli LM dan enduro baik racing maupun sport)

  4. heh makanya aku ga mau pakai oli mahal mahal buat motorku, karena disini panas dari dulu aku selalu pakai mesran super 20w50 buat semua motorku baik yang jadul maupun terbaru… 2000 km juga masih halus…

Silahkan Beropini