Inreyen Suzuki GSX-R150 Itu Sungguh Menyiksa

 

Yola dulur yang budiman…. berhubung ngadimin diberi amanah untuk inreyen alias break in motor baru gsxr150, maka ngadimin akan menceritakan kisahnya. Melakukan inreyen suzuki gsxr150 buat deka sendiri merupakan pengalaman baru yang begitu “menyiksa”.

Bukan kenapa-kenapa, ini masalah subyektif personal yang belum tentu dialami oleh biker lain, termasuk dulur sekalian. Ngadimin sendiri tipikal biker kommuter yang selama hidup hanya intim dengan motor-motor komuter seperti motor naked, moped, atau metik. Memang sering memang sering memakai motor sport fairing, tapi itu cumak minjem dan sebentar saja.

Bahkan untuk suzuki gsxr150 ini sudah beberapa kali nyobain… So far no problemo karena hanya under 20 menit di track lengang seperti sentul, serta arena test ride lainnya. Sangat berbeda dengan memakai motor full fairing apalagi underyok di jalan umum yqng banyak gangguan dan faktor eksternal lainnya.

Ergonomi ngadimin sudah terbentuk untuk motor kommuter, makanya saat inreyen gsxr150 yang underyok, tubuh perlu penyesuaian ulang. Siksaan muncul saat jalan pelan karena antrian kepadatan jalan, serta jalan menurun. Tubuh seperti tertumpu di telapak tangan yang menggenggam stang. Memang bisa ditahan sih, tapi efeknya saat istirahat tangan kesemutan. 😀

Inreyen sendiri dilakukan di jalan umum alternatif dari sumber ke arah kuningan melalui linggar jati. Jalurnya dominan tanjakan meliuk-liuk ala lereng gunung. PP sekitar 60km.

Selain inreyen motor, kali ini juga inreyen tubuh agar menyesuaiakan dengan karakter riding dari gsxr150. Jadi kesempatan pertama ini memang tubuh belum menyatu dengan motor. Pantat masih gesar-geser menyesuaikan posisi yang nyaman.

Ada kejadian konyol karena ingin meniru tips riding motor underyok, kaki mengepit kuat ke bodi, dan tangan agak rileks. Karena belum terbiasa, maka posisi duduk menjadi maju dan mepet tangki. Efeknya, saat sampai di rumah, selangkangan pegelnya mintak ampun, sepertinya ototnya bengkak… :mrgreen: .

Namun yang paling monyiksa adalah tahu karakter mesin yang galak di rpm tinggi, tapi dipaksa bermain di rpm bawah menengah. Saat rpm mencapai 6000an, motor mulai beraksi, namun harus diputus karena masa break ini.

Anjuran inreyen  di 1000 km pertama memang mesin jangan dipaksa bekerja berat, rpm cukup menengah saja. Hal ini karena sambungan antar komponen sedang menyesuaikan diri untuk membentuk gap yang ideal. Selain itu juga sedang membentuk permukaan kontak antar komponen, sehingga terbentuk parutan serbuk logam hasil friksi antar komponen yang belum ideal.

Sebenarnya langsung geber juga nggak masalah, tapi deka ingin membentuk gap ideal antar komponen dan ingin motor top perform dalam jangka panjang, motor lebih awet. Namun saat sedang terasa karakter asli mesin, dan harus menundanya, itu seperti sedang indehoy tapi dipaksa berhenti karena digerudug hansip… Wkwkwkwk 😀 :mrgreen: .

Memang butuh kesabaran ekstra untuk inreyen gsxr150 agar menjadi motor yang sesuai harapan deka. Berapa konsumsi bbm saat inreyen 60 km kemarin dengan jalur menanjak dan padat? Tercatat di dashboar, konsumsi rata-rata bbm pertama kalinya adalah 40,1 km/ liter pertamax + spark…cukup irit lah…..

Dan saat menjelang berakhir, deka mendapatkan posisi duduk yang pas walau sebentar. Yaitu membagi titik tumpu antara di tangan dan kaki di footpeg, otomatis posisi duduk agak di tengah. Ah…jadi ingin inreyen lagi, tapi sayangnya baru 2 minggu lagi terlaksana, soalnya harua ditinggal ke bogor.

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

 

21 Komentar

  1. Om deka,,sya kemarin inreyen 6000rpm-9000rpm,,padahal masih dpt 200km an,,apakah efek k mesin baik apa malah tambah njengggaaatz.

  2. mesin generasi fu fi dan gsx series ini, memang mantap ya om..
    kalo di bawa pelan rasanya kurang enak.. tp kadong di bawa ngebut.. sumpahh enak banget.. jadi ketagihan hahaha..
    #sambilngelusSiFufi

Silahkan Beropini