Belajar Waras Dari Orang "Gila" Marjo

suzuki

Yola dulur yang budiman…. Deka sebagai mantan siswa SMP 1 Muntilan jelas sangat mengenal Marjo, orang “gila” yang sering mangkal dan masuk ke ruang kelas ketika jam pelajaran selesai. Kenapa gila deka kasih tanda kutip? Mari kita belajar akan kewarasan dari seorang yang dianggap gila.

Yang deka paling ingat dari marjo adalah sepeda kebo tua nya yang sampai sekarang masih waras, dan cerita berulang dari seorang marjo ditambahin gambar kapur helikopter di papan tulis…. Blue Thunder…. Sebuah icon film heli canggih. Marjo dianggap gila hanya status akademis saja. Kalok dicek kejiwaan versi akademis psikologi dan dokter jiwa, marjo menyandang status seorang gila.

Tapi itu hanya sebatas status….. Karena selama deka mengenal marjo dulu, nggak pernah namanya ngamuk, mengintimidasi, mengambil barang orang, membuat kegaduhan, atau mengganggu masyarakat. Dia bukan orang anti sosial. Bahkan cukup gaul, suka menyapa, senyum kalau ketemu orang, dan bisa diajak bercakap-cakap. Daya ingatnya juga baik, bisa mengingat obrolan kemarin atau mengenal orang yang pernah ditemuinya, pun namanya. Yang membuat marjo disebut “gila” hanyalah obsesinya untuk mengabdi ke masyarakat melalui jalan militer gagal… Hanya itu… Marjo gagal jadi tentara.

Orang yang menganggap dia gila, bisa jadi harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita cukup waras dibandingkan seorang Marjo. Kita yang menganggap diri kita orang waras harus merenung ulang… Benarkah kita waras? Walaupun divonis “gila” marjo itu suka membantu orang yang dia temui. Kalok ada orang yang kerepotan bawa barang belanjaan, dia akan mengajukan diri untuk menolong. Setiap ketemu orang yang dikenal, tanpa memandang dia kaya, miskin, pandai, bodoh, pejabat, ahli agama, orang awam, dia sapa dengan senyum. Semua dilakukan tanpa membeda-bedakan strata, dan tanpa tendensi kepentingan, tanpa minta imbal jasa dan balasan.

Ketika seorang Marjo bersepeda dan menemui orang hajatan, dia akan berhenti dan ikut membantu apa yang dia bisa, cuci gelas, piring, angkat-angkat barang. Semua dia lakukan tanpa diundang… Bahkan untuk warga yang tidak dia kenal. Ketika marjo dipanggil dan dimintain bantuan, dia langsung mengiyakan, tanpa memandang siapa orang yang meminta…tanpa pandang bulu dan tanpa pilih kasih.

Obsesinya memang ingin mengabdi dan bermanfaat bagi warga. Dan itu masih konsisten sampai sekarang dari deka kenal awal si marjo di tahun 1992. Tanpa diundang dia datang dan ikut nimbrung, kalo dimintain bantuan selalu bilang “siap”. Untuk warga muntilan, sosok marjo ini sangat-sangat dikenal. Kabar yang dibawa oleh Marjo akan menjadi trending topik warga. Dari marjo lah warga tahu apa yang terjadi di Muntilan… Kabar nyata kehidupan grassroot warga, dari kematian, kecelakaan, kriminal, atau gossip jalanan, semua disampaikan dengan gaya kocak marjo.

Jangan tanya kecintaan warga muntilan akan sosok marjo. Bupati nggak nongol 1 bulan di Muntilan, warga tidak akan menanyakan. Tapi Marjo nggak kelihatan batang hidungnya 1 hari? Jangan tanya…. Semua bingung bertanya diri, ada apa dengan marjo…. Nggak percaya? Tanyakan langsung ke warga kota muntilan sekitar terminal.

Sosok Marjo dianggap oase kepribadian manusia yang tulus, menghibur, ikhlas, suka membantu, egaliter tanpa membeda-bedakan kalangan. Dia tidak mengenal orang beragama apa, etnis apa, selama dia kenal, dia ketemu, maka dianggap sejajar…. Kalau ditanya siapa fulan? Siapa hatta? Marjo akan jawab sama….. Mereka teman seangkatan saya….Sama-sama Manusia……beberapa kalimat mutiara marjo adalah sebagai berikut:

Orang pandai ( agama ) mengejar manunggale kawulo gusti… kalau saya, hidup itu seperti merokok, nggak usah buru-buru malah nggak terasa nikmatnya…. Yang penting tumakninah…

Orang sering melihat hanya dari kulitnya… Banyak orang yang nampak waras tapi ternyata gila… Gila hormat, gila kebenaran, gila jabatan, gila harta, gila wanita…… Sedangkan orang yang kelihatan gila, ternyata…..beneran, contohnya saya….

Nah dibandingkan sosok marjo, mari kita berkaca diri, lebih waraskah kita dibandingkan Marjo, atau sebenarnya siapa yang gila?

Semoga bermanfaat

Wassalamualaiku.

13 Komentar

  1. mungkin bukan pakdhe marjo yg gila, tapi kita, masyarakatlah yg mulai menjadi gila krn tuntutan zaman. jamane jaman edan, yen ra melu edan ora keduman

  2. subhanallah, insya allah mas marjo bisa menjadi orang yang paling mulia di hadapan allah. dia benar-benar dikaruniani hati yang tulus ikhlas spt rosul. tak perlu menjadi tentara asli, mas marjo sudah membuktikan semangat TNI yang original. sungguh besar pahala mas marjo yang suka membantu, tahukah kalian bahwa dunia ini sebenernya ladang untuk mencari bekal pahala?

    ya itu comment singkat ane ga soal mas marjo, jangan sepelekan orang yang suka membantu seperti dia. hehehe, nice artiket mas brow

Silahkan Beropini