Memahami DOHC Secara Sederhana….. Seperti Obat Kuat

DOHC direct tapped / origin
suzuki

Yola dulur yang budiman…. sebelumnya deka bukan ingin memanaskan lagi perdebatan dohc versus sohc di motor. Menurut deka itu nggak akan selesai-selesai karena ke-2 istilah tersebut mau ditentukan paling bagus yang mana, tergantung anda mau jualan motor jenis apa. Kalau dohc, ya jelas diunggul-unggulkan dohc, dan kalau jualan sohc, ya yang bagus sohc. Di sini deka hanya ingin mengajak diskusi tentang dohc, dan memahami dohc secara sederhana, easy logic….

DOHC direct tapped / origin
DOHC direct tapped / origin

Untuk mengerti apa itu dohc, kelebihan atau kekurangannya dibandingkan sohc, silahkan santap dulu menu berikut ini, biar kita langsung to the poin

http://78deka.com/2014/05/07/dohc-vs-sohc-di-kelas-150-cc/

http://78deka.com/2014/03/23/beberapa-salah-kaprah-pemahaman-tehnologi-motor/

http://78deka.com/2016/01/06/menguak-rahasia-dohc-abal-abal-seperti-minum-ctm-biar-tidur/

http://78deka.com/2015/04/21/siapa-bilang-motor-sport-nggak-boleh-sohc-nih-malah-pakai-turbo/

http://78deka.com/2014/09/23/yang-bikin-r15-inferior-dibanding-cbr150-bukan-sohc-nya-tapi-overstroke-nya/

Dari 5 artikel itu saja, seharusnya kita akan paham apa itu dohc. Tapi perdebatan dohc vs sohc nggak akan selesai, ya karena masih ada motor beda merk yang mengusung dohc dan sohc. Coba kalau merk-nya sama, adem ayem dah…….

mesin sohc
mesin sohc

Nah…. kalau pembahasan kita tentang dohc masih dianggap rumit, maka mari kita bicaraan lagi menggunakan kasus sedehana, easy logic, penyederhanaan kasus mesin dohc. Kita akan bahas secara sederhana, motor membutuhkan dohc apa tidak saat nanti dibuat dan dijual.

Sebuah pabrik motor mau bikin mesin motor….. menyuruh para insinyur-nya membuat mesin, katakanlah 150 cc. Yang dimau oleh pabrikan adalah mesin untuk kelas kommuter.

Pertama yang dilakukan oleh para insinyur tersebut adalah menentukan ukuran bore x stroke mesin tersebut ( katakanlah A mm x B mm )….. Kemudian mereka menguji dan meriset mesin tersebut sampai batas limitnya.

bore stroke
bore stroke

Pada kasus pertama, didapat potensi mesin tersebut bisa lebih maksimal lagi dengan ukuran bore x stroke tersebut, untuk batas piston speed masih aman, sayangnya terkendala oleh kacaunya buka tutup klep saat rpm tinggi, mesin tidak tahan digeber maksimal. Akhirnya para insinyur memutuskan untuk menanamkan sistem cam ganda atau dohc untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jadilah motor dengan mesin dohc.

Pada kasus kedua, para insinyur membuat ukuran bore x stroke lain, katakanlah C mm x D mm. Dengan profil bore x stroke seperti ini dicapai performa maksimal di rpm tertentu, katakanlah 9500 rpm. Sebenarnya mesin masih punya potensi naik lagi performanya, tapi sayangnya udah kepentok dengan piston speed maksimal jika rpm dinaikkan. Karena dengan rpm segitu sistem cam masih oke menghandling asupan bbm atau sistem buangnya, akhirnya para insinyur cukup memakai sohc. DOHC belum dibutuhkan. Akhirnya lahirlah motor bermesin sohc.

viagra
viagra

Sederhana bukan ? jadi dohc atau sohc itu dipasang sesuai kebutuhan karakter mesin yang berhubungan dengan profil bore x stroke. Ini yang menjadi blue print karakter motor perlu dohc apa sohc. Bukan bikin mesin tipe dohc, kemudian baru digali potensinya sejauh apa…. ini namanya logika kebalik-balik. DOHC atau SOHC itu seperti obat kuat, kalau sudah dianggap kuat oleh bini, ngapai pake obat kuat. Kecuali bini anda ngeluh kalau andaΒ  kurang kuat, baru deh minum obat kuat. XD XD .

Kita sering salah kaprah dengan istilah dohc atau sohc, kenapa? karena ada kepentingan marketing disitu…. Apalagi kalau bagian marketing yang ikut campur dalam penentuan mesin oleh para insinyur. Akhirnya keunggulan sebuah mesin ditentukan oleh bagian marketing, bukan oleh para insinyur. Mesin ini lebih bagus dari pada mesin itu, kalau insinyur membatah, jawabannya, marketing is number 1 priority….. deka jadi ingat kasus klasifikasi di olie deh, yang penting duit…… XD XD …….

Bonus…. Money…. Pink floyd

Semoga bermanfaat

Wassalamualaikum

19 Komentar

  1. tp ada ko sohc overbore yg ngejar rpm tinggi dan puncak power diletakn drpm tinggi, knp g sekalian dohc j apa karena cc nya kecil contoh gen cbr 125 dan turunanya

  2. ane pribadi sih gak masalah kalo misalnya engine motor 150cc (atau bahkan 200 hingga 1000 cc sekalian) pakai SOHC, tapi jangan overstroke (minimal Square Engine-lah) dibikin Overbore kayak engine Sonic/CS-1 125, Toh faktanya motor Road-race bebek kelas 115/130cc underbond mesinnya masih SOHC, tapi RPM rata2 sanggup 13.000 – 15.000 RPM, kalau buat harian ya cukup di limit di 10.500/11.500 RPM dan peak-power ditaruh di 9.500-10.500 RPM udah bagus…

  3. Kalo orang awam ngeliat mesin 150cc,dan disuruh milih,.jelas mesin dohc,soalnya kliatan padet dan berotot.,imbasnya,mindset jd trgiring “Dohc itu lbih kenceng dr Sohc”..tp ngliat rangkanya (cb150),kaya kurang fitnes,kurus..mnding deltabox,kekar..motogp kan delta box,.tp vixion mesinnya sohc…jd kudu milih yg mana..cbr150 cbu??..dohc dan deltabox,motogp banged…tp harganya ga value,sparepartnya mahal,kudu inden,mukanya masih sempak…

    dan akhirnya milih metic,tanpa dp,cicilan ringan…zluub..#fb

  4. Artikel yang bagus. Intinya pemilihan tipe cam sesuai peruntukan dan potensi yang ingin dicapai. Makanya bagi YIMM untuk kelas 150cc cukup SOHC dan kalau perlu ditambah VVA saja sudah bisa mengalahkan DOHC yg lebih ribet dan boros. Contohnya sudah terbukti SOHC MX King mengalahkan semua mesin DOHC di sirkuit sentul.

    Dulu ada motor sport DOHC mirip kayak old vixion yang maksain main di putaran tinggi dan minum premium. Alhasil banyak kasus klothok2 dan mesin jebol. Mungkin belajar dari kegagalan itu, 2 tahun kemudian mesin diganti berkarakter overstroke mirip kayak vixion juga.

1 Trackback / Pingback

  1. Percuma DOHC Kalau Kualitas Bahan Part Kurang | 78deka

Silahkan Beropini