British Motogp : The Rain Master, Bukan Blame It On The Rain

suzuki

Yola dulur…mengikuti motogp seri Inggris yang dihelat di sirkuit silverstone dari sesi free practice sampai sunday race, prediksi deka dikacaukan oleh alam dengan nama hujan. Motogp seri kali ini dijadikan ajang show off oleh para Rain Master, bukan keluhan fans yang menyalahkan kacaunya balapan karena hujan, mudah saja menyebut hujan sebagai biang kerok…. blame it on the rain

Rossi juara silverstone 2015
Rossi juara silverstone 2015

Marquez yang menguasai free practice dan qualifikasi menjadi unggulan utama seri kali ini. Apalagi doi mendapatkan pole position, dan di musim-musim  sebelumnya menguasai seri Silverstone, minimal dapat podium. Sirkuit silverstone lebih bersahabat untuk pembalap spanyol, akhir-akhir ini.  Terakhir pembalap non spanyol yang juara adalah Stoner di tahun 2011, dan pembalap Italia terakhir adalah Dovizioso di tahun 2009.

Di tahun 2015 ini, juaranya adalah si old crack Valentino ” bang oci ” Rossi yang terakhir mengecap juara Silverstone di tahun 2005…. lama pakai byangetz… Hebatnya lagi, pengisi podium adalah pembalap-pembalap Italia, Rossi, Petrucci, dan Dovizioso. Semua ini pangkal masalahnya adalah hujan. Ya, balapan dalam kondisi hujan ringan, balapan yang awalnya diset kering, saat dilakukan warm up para pembalap dipaksa masuk pit dan balapan diundur 20 menit untuk menentukan balapan kering atau basah. Akhirnya diputuskan wet dream race.

Balapan wet race, membuka kesempatan pembalap yang motornya secara tehnologi kalah untuk bisa menyodok ke depan. Di balapan wet race, tehnologi yang tersemat di motor akan tersunat kemampuannya, sehingga pembalap dengan skill dan nyali lebih, khususnya yang bisa memaksimalkan motor di trek basah akan menguasai balapan. Rossi jelas menjadi prioritas utama, selain kematangan mental, nyali, serta skill, tehnologi M-1 bisa dimaksimalkan oleh rossi dalam balapan hujan.

the rain master
the rain master

Berbeda dengan Lorenzo yang kalau balapan wet race, nyalinya seperti terkebiri, sehingga skill dan tehnologi motornya tersunat. Marquez dengan motor asimonya, pada awal-awal sampai 10 lap terakhir masih menunjukkan tanda-tanda bisa mengimbangi si old crack vr46. Namun mulai lap tersebut sampai 6 lap menjelang finish, gerak motornya menunjukkan sesuatu yang tidak beres. Sepertinya kondisi ban mengacaukan sistem asimonya, sehingga terjadi slide, marquez tidak mampu mengendalikan motor, dan Soooorrrrr…… marquez the end sooner than the game. Kemungkinan menurut deka, Marquez terlalu mengikuti gaya balap Rossi di depannya, sedangkan karakter motor antara RCV dengan M-1 berbeda. Dengan gaya balap Rossi kali ini, kondisi ban lebih terjaga dengan sasis M-1 daripada dengan sasisnya RCV.

Di kondisi trek basah, insting dasar pembalap yang bernyali, berskill tinggi mempunyai keunggulan daripada pembalap dengan skill tinggi dan tehnologi motor. Nggak heran seorang danilo petrucci dengan motor ducati satelit dan Dovizioso dengan ducati yang secara tehnologi kalah, bisa mempecundangi M-1 lorenzo dan RCV Pedrosa, dan tentunya Marquz yang prosodan di gravel. Pembalap-pembalap italia mempunyai insting dasar seperti itu, Rain master rata-rata adalah pembalap Italia, meskipun pembalap negara lain juga secara spesifik ada yang termasuk rain master. So… Its time for rain master, say goodbye for blame it on rain……..

Bonus…. Wet….Wet….Wet…Love Is All Around

 

1 Komentar

Silahkan Beropini