Yang Terkais Dari MotoGP Seri Philip Island

Yola dulur… setelah motogp seri Philip Island berakhir kemarin, bukas soal siapa-siapa yang mengisi podium yang akan diobrolin sekarang. Namun tentang beberapa cerita yang mengiringi berlangsungnya balapan penuh drama tersebut. Deka mengais-ngais cerita dan informasi, baik dari berbagai forum maupun web surfing.

podium philip island
podium philip island

Yang akan dibahas adalah banyaknya pembalap yang mengalami crash, faktor kemenangan Rossi, sumber kegagalan Lorenzo mempertahankan pace, ndlosornya Marquez, apesnya Pedrosa, dan reaksi fans Marquez tentang hasil balapan.

Balapan  Philip Island kemarin memang penuh drama karena banyak sekali diwarnai oleh beberapa accident yang melibatkan beberapa pembalap maupun accident tunggal, dan menyisakan hanya 14 pembalap yang berhasil finish. Sedangkan yang mengalami DNF sebanyak 9 pembalap, termasuk duo HRC, Pedrosa dan Marquez. Sebagian dari accident tersebut disinyalir disebabkan oleh faktor ban, bahkan dialami juga oleh yang berhasil finish. Seperti kita ketahui bersama bahwa di seri philip island ini, Bridgestone menyediakan ban dengan kompon asimetris, yaitu pilihan kekerasan kompon yang berbeda antara sisi kiri dan kanan ban. Sepertinya perlu pengembangan lagi dari ban tersebut. Atau karena pembalap belum menyesuaikan dengan kompon ban tersebut? entahlah……

kondisi ban setelah balapan philip island
kondisi ban setelah balapan philip island

Namun yang jelas pihak Bridgestone akan menganalisa dan mengumpulkan data untuk menjadi acuan pembuatan ban untuk seri ini tahun depan.

Bridgestone’s Shinji Aoki stated: “The cool ambient temperatures and strong wind combined to create tricky conditions which resulted in a few riders crashing in the final stages of the race. We will now analyse the data we collected to determine if any changes need to be implemented next year at Phillip Island.”

Dari pihak Bridgestone sendiri sekarang masih berpaku pada alasan suhu aspal yang dingin dan faktor hempasan angin yang kencang membuat kondisi lebih tricky buat banyak pembalap crash di akhir balapan.

Dari sudut pandang deka, kemenangan Rossi kemarin merupakan kemenangan dari sebuah pengalaman. Dimana hal itu belum dimiliki oleh Marquez sang juara dunia. pengalaman akan kondisi tertentu itulah yang memenangkan Rossi, disini adalah faktor pemilihan ban compound asimetris yang dikombinasikan dengan riding style para rider. Untuk kesempatan ini Rossi berhasil menyesuaikan diri dengan ban, sesuatu yang tidak dilakukan oleh Marquez pada saat memimpin balapan kemarin.

Pemilihan compound ban tersebut juga dialami oleh runner-up Lorenzo, dan itu juga diakui oleh dirinya sehingga doi tidak mampu mempertahankan pace di akhir-akhir balapan, sampai bisa diover-take oleh pembalap Ducati, Crutchlow… untung Crutchlow juga mengalami gangguan grip ban yang membuatnya crash di lap terakhir dan mengantarkan Lorenzo menjadi runner-up kembali.

“On the right it was perfect and I could catch Vale a lot but when I arrived into a left it was a disaster. Every lap was worse and the last laps it was a drama to stay on the bike in fifth, sixth gear. I managed to stay on the bike, finish the race and I was very lucky – this is probably my luckiest second place.”

When informed that Bridgestone maintains the position that tyre behaviour is determined by each individual bike’s set-up, Lorenzo simply smiled and responded:
“As always…”

marquez crash
marquez crash

Faktor ban juga dialami oleh Marquez, namun sayangnya doi belum mengakuinya. Namun deka beranggapan faktor-faktor tak terduga seperti ini belum bisa diatasi oleh sang juara dunia termuda tersebut. Terlalu banyak kesalahan pemula yang dilakukan olehnya, untung semua itu tertutupi oleh canggihnya motor RCV. Kembali ke ndlosornya doi kemarin, nggak ada tekanan dari lawan, tiba-tiba kehilangan grip. satu-satunya alasan yang masuk akal adalah faktor ban yang memang baru kali ini dipakai oleh semua pembalap, dan Marquez kurang dalam reaksi mengatasinya. Soal faktor tak terduga tersebut deka jadi ingat saat balapan di Aragon, dimana adaperubahan kondisi dari terang ke hujan, Marquez selalu menengok ke belakang. Beberapa fans berat Marquez berpendapat, itu karena Marquez ngoevoor Lorenzo 😀 😀 ….  Kalau dari kacamata deka, doi itu melihat rekannya pedrosa mau ganti ban basah atau enggak, doi tidak bisa memutuskan dan menunggu keputusan rekannya tersebut…. dan gagal………

pedrosa accident
pedrosa accident

Kemudia banyak sekali di forum-forum, fans Marquez beropini bahwa Marquez sekarang sudah tidak niat balapan, ngasih kesempatan pembalap lain untuk menang. Manurut ane ini juga merupakan alasan yang mengada-ada…. Opini ini sama saja meremehkan keprofesionalitas seorang Marquez. Marquez merupakan pembalap yang selalu all out saat balapan, doi merupakan pembalap yang selalu ingin memecahkan rekor. Dan sekarang sedang memburu rekor kemenangan terbanyak dalam semusim milik Mick Doohan,….. sekarang doi balap nyantai???? 😀 😀

Sedangkan pedrosa yang apes ditusbol oleh ianonne ini menurut deka adalah sebuah misteri namun terus berulang. kalau mengikuti sepak terjang Pedrosa dari masa lampau, pembalap ini punya skill joss, namun entah apa selalu diiringi oleh situasi Apes. Doi mempunyai julukan Tuan nyaris…… ya… saat doi di puncak performa, ada saja yang menghalangi targetnya, dari ditabrak pembalap lain, jatuh, gangguan motor dan lain-lain. Jangan pernah meragukan skill balapnya, namun diluar faktor skill tersebutlah yang masih menjadi misteri……Keknya perlu diruwat nih pembalap…… 😀

Bonus : Motorcycle Driver…… By Joe Satriani

 

Semoga bermanfat

Wassalamualaikum

32 Komentar

  1. kalu rossi wajarlalah,

    pengalamannay segudang, itu kelebihannya dibanding markues.

    felling rossi lebih berperan karean dah kenyang di motor seditkit elektronik.

    tapi spt kita tau, biasanya mm juga akan pelajari hal tsb

  2. Ia mengakui balapan di Phillip Island ini dirinya berusaha melakukan berbagai gaya balap. “Saya sudah mulai memacu motor sejak dari awal, tapi di tengah lomba saya merasa semakin dingin dan itu sulit untuk mendapatkan suhu di sisi kanan ban,” paparnya.

    Sementara Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo yang finish 1-2 justru tidak menggunakan ban asimetris, tapi ekstra lembut. Berarti, Marquez menjadi korban percobaan, dong! (Otosport.co.id)
    ======================
    beda ban depan yach?

        • bukan soal pengalaman juga..

          setup M1 emang lebih cocok dgn kompon yg lebih soft, sebaliknya RCV lebih cocok pake kompon medium/ hard..hal itu terkait riding style dimana Lorenzo tipikal pembalap patuh racingline yg kenceng di tikungan cepat.. sementara Stoner sampe Marquez cenderung nge-drift yg gak bisa pake kompon soft..

          Coba tengok sejak 2011, kalo suhu track> 30 derajat, 90% Honda yg menang.. M1 bagus saat suhu dingin disaat ban soft dipakai

          Di Philip Island, Marquez bukannya ga mau pake extrasoft.. tapi emang RCV ga didevelop dgn kompon ban soft/ extrasoft

  3. “Mungkin karena sudah tidak ada tekanan (mental), saya mencoba cara berbeda mulai dari start hingga menghasilkan jarak sejauh mungkin dengan pebalap lain. Balapan yang luar biasa, tapi berakhir dengan jatuh,” kecewa Marquez.

    Juara Dunia MotoGP 2013 & 2014 asal Spanyol ini menyayangkan bahwa saat terjatuh dirinya sedang tidak memaksa lebih kencang seperti lap sebelumnya.
    ==================
    sedang belajra khan mm? u/ persiapan thn depan

  4. hoahahahaha. tuan nyari! harus diruwat? :mrgreen:

    mister apes 😀

    tapi jujur bro. pedrosa salah satu dari 4 alien motogp tahun ini.

    pembalap yang masih muda. masih ada kesempatan panjang buat title juara.

    ingat! kemenangan bukan selalu skill dan teknologi. siapa sangka suatu saat tahun itu banyak keapesan akan menimpa para alien macam lorenzo, marquez, yang dibuat suka ndlosor. namun bukan buat pedrosa. siapa sangka kan!

    -dewi fortuna salah satu faktor pembalap juara.-

Silahkan Beropini