Milik Darmogati Seukuran Bayi (Balada Darmogati)

(bayi)
(bayi)
(bayi)

Yola dulur, balada Darmogati kali ini berkisah tentang awal pernikahannya dengan Marsentit, istrinya yang semlohay ituh. Kisah kali ini mengandung unsur kata-kata “agak dewasa”, parental guidence, jadi untuk pemirsa dibawah 17 tahun mending langsung skip aza, nek ngeyel  tanggung sendiri akibatnya 😀 . Untuk singkatnya mari segera kita buka layar……………..

Pada saat masa pacaran dengan Marsentit, sebenarnya ada suatu rahasia yang selalu dipendam (beda kasus dengan potensi terpendamnya RC1000V lho ya 😀 ) oleh Darmogati. Meskipun saat pacaran terlihat cengengas-cengenges, main muter-muter ngalor ngidul dengan motor piksennya demi nyenengin sang dambaan hati, tapi di dalam hatinya seperti ada batu yang mengganjal, karena rahasia tersebut. Ini berhubungan dengan salah satu anggota tubuhnya yang bisa dibilang ngga wajar. Pasti udah pada nebak neh…. Yups….bener tebakan kalian semua… ini soal Tumbak Korowelang, atau bahasa Lek Yudibatang Botol Akaz.

Rahasia itu mau ngga mau kudu disampaikan kepada Marsentit karena hari-hari pernikahan itu semakin dekat. Dia ngga mau, dan kasihan jika nantinya Marsentit menyesal dengan kekurangannya tersebut, sedangkan statusnya sudah diikat dengan pernikahan. Di suatu malam, akhirnya kesampaian juga ngobrol berdua di atas motor piksen merahnya, di pojok alun-alun Cirebon. Setelah dikenyangkan dengan semangkuk Mie kocok, nasi jamblang dan minuman Jasu (jahe susu) sebelumya. “Kalo perut kenyang pasti pikiran tenang” batin Darmogati. Dan dia pun memulai percakapannya.

(ilustrasi)
(ilustrasi)

“Nok, hari pernikahan kita sudah dekat, sebelum itu terjadi aku mau tanya kepadamu untuk yang terakhir kali. Apakah kamu benar-benar mencintaiku apa adanya?” Darmogati membuka percakapannya.

Marsentit menjawab,” Mas..ada apa to? kok pertanyaannya aneh, yo jelas aku ini cinta mas apa adanya, kalo ngga nerima mas apa adanya, aku dah milih si panjul yang naik ninja itu mas…”.

” Ah… bener apa adanya walaupun aku punya kekurangan ?” tanya Darmogati lagi.

” Oalah mas..mas… aku ini tanpa mas kasih tahu juga udah ngerti kalo mas itu banyak kekurangannya. Temen-temen juga pada ngasih tahu, tapi itu bisa saya terima, ngga ada manusia sempurna” kata Marsentit sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Darmogati.

Darmogati mulai deg-degan, keraguan menghampirinya, tapi ditepis..”ah kalo ngga sekarang kapan lagi? now or never..” batinnya. Dengan nada lirih dan terputus-putus Darmogati mulai membuka rahasianya ” Sebenarnya selama kita pacaran, aku menyimpan suatu rahasia yang ngga pernah aku sampaikan kepadamu. Ini menyangkut bagian fisikku yang ngga normal, tapi kudu aku sampaikan kepadamu, karena engkau calon istriku. Setelah aku sampaikan rahasiaku aku rela jika engkau membatalkan pernikahan kita, karena aku takut kamu kecewa dengan keadaanku, aku rela kamu sama orang lain yang penting kamu bahagia, Nok”.

Marsentit tersentuh dengan kata-kata arjunanya itu, sambil menitikkan air mata dia menjawab  ” Mas, apapun kondisimu aku rela sama kamu, aku mencintaimu bukan melihat fisik dan hartamu mas, ini soal pilihan hati.”

Darmogati mulai mantab hatinya, ” Gini nok, secara umum fisikku ngga ada perbedaan ama laki-laki lain, tapi masalahnya adalah “anuku” ukurannya ngga normal….seukuran bayi Nok……”.

Sambil menghela nafas Marsentit menjawab,” Oh…masalah itu to mas, tapi masih bisa dipakai kan mas?”.

” Ooo…bisa sekali, kalau fungsi mah normal Nok” timpal darmogati.

” Ya udah ga papa mas, aku nerima kok, hidup bareng denganmu saja aku udah seneng…kebahagian bisa diraih dengan jalan yang lain”, jawab Marsentit. Jawaban itu bikin Darmogati senang bukan kepalang, sampai tangki motor kesayangannya diciumi bertubi-tubi.

Singkat cerita pernikahan berjalan lancar, dan saat malam pertama pun tiba, mereka berdua memasang lampu kamar agak redup. Mulailah mereka memadu kasih…maklum pengantin muda…. belum lama bermain-main, Durmogati langsung main tembak saja, di lepas semua pakaiannya sambil membelakangi istrinya. Saat membalikkan badan, sontak Marsentit melotot dan jatuh pingsan….. Darmogati langsung mengambil minyak kayu putih dan dioleskan-oleskan ke dahi, tengkuk dan ujung hidung istrinya sampai siuman.

Ketika sadar dari pingsannya Marsentit berkata dengan genit pertanda seneng pada suaminya, ” Mas, ternyata kamu boong saat itu, katanya anumu seukuran bayi, tapi nyatanya kok GUEDHEE gitu.”

Darmogati pun menjawab, ” Lho…aku ndak boong kok Nok, aku kan bilang ukurannya seperti bayi, bukan seperti ukurannya tititnya bayi…..

😀 :D:D

9 Komentar

Silahkan Beropini