SUGIH TANPA BONDHO

(ilustrasi)
suzuki
(ilustrasi)
(ilustrasi)

Yola dulur, renungan hari jum’at, sementara lupakan dulu panasnya dunia motor,  sejenak refleksi diri untuk meningkatkan mentalitas kita, mari segera dimulai bahasannya. Kalau ada orang yang masih tertawa saat mendengar kalimat pitutur jawa “sugih tanpa bondo” (kaya tanpa harta), sepertinya harus banyak merenung lagi. Kenapa? karena pitutur, atau nasehat itu berasal dari mbah buyut, canggah, ungik-ungik, gantung siwur, atau entah siapa di masa lampau. Nasehat yang berasal dari masa lampau dibuat bukan hanya sekedar merangkai kata, tapi melalui pemikiran mendalam, serta olah rasa.

Sepertinya memang aneh untuk ukuran jaman sekarang yang serba materialistis ini mengangkat pitutur tua yang bertentangan dengan gaya hidup masa kini, terdengar absurd gituh…. Udah jamak kalo parameter “kaya” itu punya mobil mewah kalo bisa lebih dari satu, rumah mewah, motor mv gusta, ducati, trumph speedtriple, harley pada mangkrak di garasi, rekening tabungan dengan angka o berderet panjang, yah minimal 9 digit. Si Anu bilang Si Itu kaya, Si Itu bilang Si Eta yang kaya, sedangkan Si Eta bilang orang yang udah kaya itu kudu seperti Si Tea, Si Tea bilang yang kaya itu seperti entah siapa lagi. Seperti ngga habis-habis gitu patokannya, terus patokan pasti biar termasuk golongan kaya itu yang mana? kaya itu apa? Yang namanya patokan atau standar ukuran, itu kudu jelas sekali batasannya.

(ilustrasi kesadaran universal)
(ilustrasi kesadaran universal)

Dalam perenunganku kok emang benar pitutur itu, rasa kaya itu sebenarnya yang ngerasain adalah hati kita, kaya itu patokannya berupa perasaan…. Ya perasaan…. karena perasaan itu patokannya jelas, seperti patokan rasa senang, susah, sedih, gembira, cinta, benci, semuanya jelas sekali perbedaan serta rasanya. Waktu kita sedih, meskipun kita tutup-tutup-tutupin, berpura-pura gembira, atau melampiaskan dengan hura-hura penuh tawa, tapi hati kita tahu kalo kita lagi sedih. Diri kita sendiri ndak bisa diboongi antara rasa sedih dengan gembira, semua seperti ada ruangannya masing-masing, batasnya jelas sekali.  Naaaahh…. kalo udah sepakat kalo kaya itu patokannya adalah perasaan, mari kita simpulkan kalau istilah orang kaya itu adalah  orang yang merasa hidupnya sudah lebih dari cukup. Sekarang batasannya jelas sekali antara kaya, cukup, dan miskin. Si miskin jelas merasa kurang, si cukup merasa cukup saja, pas-pasan, ndak kurang tapi juga ndak berkelebihan, sedangkan si kaya merasa lebih dari cukup, berkelebihan, sehingga lebihan ini diberikan untuk orang lain yang membutuhkan.

Perasaan itu adanya dimana sih? di otak? bukannnn adanya dalam hati kita, dada kita. Perasaan itu seperti ada yang narok di hati, gitu. Lho…lho… ada yang narok? Lha iya… dari ngga ada terus menjadi ada kan berarti “ADA” yang mengadakan, awalnya ngga ada perasaan kaya dalam diri kita kemudian perasaan itu muncul, berarti “ADA” yang narok. Coba sekarang anda tarok rasa cinta, bahagia, marah, benci, kaya, bisa? jelas ngga bisa, bisanya hanya berpura-pura, levelnya hanya penampakan ciri-ciri fisik saja bukan asli dari hati. Karena yang bisa ngasih mah yang “ADA” itu. Mangkanya jika kita pengen merasa kaya, tinggal minta saja kepada “Beliau” agar perasaan kaya ditarok di hati, ndak bayar kok, ndak perlu pake uang, lha wong Beliau sudah Maha Kaya, gratis…tis…tis….tis……

Jadi untuk menjadi kaya emang tanpa modal (bondo). Tinggal minta,terus usaha/belajar/jalani/lakuin yang bisa. Bukannya di islam ngajarin,kalo mau kaya harta, anda harus merasa kaya dulu (apa yang dikasih sekarang lebih dari cukup) yang berujung pada rasa syukur. Kata pak Ustad, Perasaan kaya itu kaga ada hubungannya dengan materi, lha wong rasa itu non materi kok digathukkan dengan yang materi, ya ngga nyambung. Terus muncul pertanyaan, apakah kita ngga mau harta banyak? kan kaya kaga ada hubungannya dengan materi? Lho….lho…. Siapa yang ngga mau hidupnya banyak harta? tapi itu kaga ada hubungannya dengan rasa kaya. Harta ya harta kaya ya kaya,masing-masing berdiri tunggal, harta itu materi, kaya itu rasa, rasa kaya tidak memandang orang banyak materi maupun yang sedikit materinya. Harta sumber rasa kaya adalah perasaan artifisial, semu, sesaat, sementara aja terasanya. Saripatinya adalah kaya = syukur, sugih tanpa bondho = Rasa kaya yang diberikan sama Tuhan ke dalam hati/dada kita tanpa terikat dengan adanya materi.

# Lantas ada yang nyeletuk, mending aku ngga ngerasa kaya tapi punya harta banyak  daripada ente, udah harta ga punya, rasa kaya juga kaga…..# Aaaa Luweh……

Sooo sudah kaya kah anda? THINK AGAIN

Ini adalah opini bebas saia, bukan kebenaran mutlak, Silakan beropini lain, silahkan dishare aja

Wasslamualaikum

4 Komentar

Silahkan Beropini